Sunday, November 4, 2012

Inikah Fitrah atau Sekedar Nafsu Duniawi


Ketika raga mulai tumbuh dewasa,
Ketika amal kebaikan mulai dihisab,
Ketika rasa mulai tumbuh dihati,
Ketika asa dihantui rasa patah hati,
Membuat manusia lupa akan kebahagiaan yang hakiki.

Semua orang pasti mengalami,
Tak pandang usia apalagi harta,
Rasa ini tumbuh dan bersemi dihati,
Akan berdosa dikala belum waktunya,
Akan bahagia jika telah sampai masanya.

Ya Allah yang membolak-balikkan hati kami..
Apakah ini fitrah atau sekedar nafsu duniawi?


Ketika masih usia kanak-kanak, kebahagian terbesar adalah ketika mempuyai boneka yang banyak atau koleksi mainan dari tokoh super hero yang sangat lengkap. Kebahagiaan tersebut tentu bertahan tidak lama, seragam putih-merah mulai membuat itu semua lenyap, tokoh super hero yang selama ini dibangga-banggakan atau boneka cantik hadiah ulang tahun dari Ibu dibuat tidak berdaya ketika harus dimasukkan kedalam lemari kaca.

Masa kanak-kanak mengingatkan kita akan kasih sayang kedua orang tua ketika kita masih kecil dahulu. Rasa manja terkadang membuat mereka tersiksa, menuruti semua kehendak kita. Stop..!! Ini membuat saya merindukan mereka di rumah (maklum anak kost, jauh dari orang tua).

Setelah tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang semakin dewasa, akan ada satu rasa yang merupakan fitrah yang dititipkan Allah kepada manusia. Semua dari kita pasti akan sepakat dan memiliki jawaban yang sama.

Cintut atau versi alaynya Lop3, LuV, LuPh, dan sebagainya (saya tidak tahu banyak), bukanlah perkara yang tabu lagi dikehidupan remaja, mungkin semua sudah pernah mengalaminya bahkan sudah berkali-kali.

Kata cintut tentu tidak luput dari kata bahagia dan patah hati. Dikalangan remaja, ini menjadi bahasan utama ketika lagi bersama. Ya... Ada istilah kasmaran, PDKT, jadian, putus dan bla bla bla.

Masa remaja sebenarnya bukanlah masa-masa yang semestinya harus kita habiskan untuk hal-hal seperti tersebut. Lagu musisi 90-an “Kisah Kasih di Sekolah” dan pengaruh budaya barat membuat banyak remaja zaman sekarang sepertinya berlomba-lomba untuk untuk memperoleh kebahagiaan yang kadang hanya 1 bulan, 6 bulan, 3 tahun atau bahkan ada yang berakhir pelaminan. Namun apakah itu bisa dianggap sebagai sebuah kebahagiaan?

Perkembangan zaman dan pengaruh budaya barat menyebabkan pergeseran nilai-nilai, sesuatu yang nyata-nyata halal disamar-samarkan dan dibuat menjadi haram, begitu juga yang haram sekarang sudah dipandang sebagai sesuatu yang halal. Judi sekarang dianggap sebagai hiburan, membuka aurat menjadi trend berpakaian, pacaran menjadi ajang perkenalan.

Kehidupan remaja mungkin tak luput dari satu kata yang banyak membius dan menjerumuskan banyak generasi muda saat ini, tepat sekali “pacaran”. Bukan hanya remaja, anak bau kencur pun sekarang sudah banyak terjangkit penyakit ini.

Sebagai seorang remaja tentu akan timbul pilihan di hati kita, mengikuti trend yang sedang marak atau tetap menjaga dan menunggu tiba masanya kelak. Ungkapan “hari gini ngga punya pacar, kasian banget sih elo” sering sekali mungkin kita dengar, bercanda dengan pesan terselubung mencela. Lantas jangan sampai ungkapan tersebut membuat hati kita goyah. Ketika mereka berkata seperti itu, maka berdo’alah dalam hati “Ya Allah.. Jagalah hati ini sampai tiba waktunya”.

Nafsu membuat manusia berbelok ke jalan kesesatan. Bukan hanya remaja, orang tua pun terkadang juga tak luput, bahkan aktivis dakwah sekalipun. Pengetahuan dan pemahaman agama tidak menjamin akan lepas dari hal ini. Agama sering digunakan sebagai alat untuk  membenarkan penyelewengannya. Mereka tahu bahwa pacaran itu haram, tapi mereka berusaha menyamarkan dan menyebutnya dengan “pacaran islami”. Adakah istilah tersebut dalam Islam?

Banyak dari kita pernah terjerumus di masa lalu dan mungkin sampai sekarang masih banyak juga yang terus mempertahankannya. Ingatlah.. Jalan masih panjang, masa lajang jangan membuat kita tergiur dengan kesesatan yang ditawarkan, nafsu duniawi yang akan menghancurkan masa depan. Pernikahan adalah solusi yang tepat, bukan pacaran. Memang pernikahan merupakan perkara yang sangat mudah untuk dilaksanakan, namun hari-hari yang akan dilalui setelah itu tentu memerlukan persiapan yang sangat matang.

Kita sudah melewati hari-hari yang penuh hura-hura, banyak kesempatan belajar telah kita lewatkan begitu saja, sampai pada saatnya kelak tidak ada sedikitpun persiapan untuk menjalani bahtera rumah tangga. Jangan pernah menganggap pernikahan sebagai sesuatu yang tabu, karena tentu semua dari kita akan menjalankannya, terutama laki-laki yang akan menjadi imam bagi keluarganya kelak. Kepala keluarga layaknya nahkoda dalam sebuah kapal, ia menjadi pemimpin dan penuntun bagi keluarganya untuk dapat mencapai sebuah tujuan, terjangan ombak atau  halangan badai merupakan rintangan yang harus di sikapi dengan bijak dan di hadapi bersama, bukan hanya duniawi tetapi tujuan hidup yang hakiki yaitu akhirat. Pengatahuan dan pemahaman agama tentu sangat diperlukan untuk dapat menggapai cita-cita keluarga yang sakinah, mawaddah wa rohmah.

Ya Allah yang membolak-balikkan hati kami..
Jangan Engkau jadikan rasa ini membuat kami jauh dari-Mu,
Mengurangi rasa cinta kepada-Mu.
Berikanlah kelak pasangan dengan ketulusan hati,
Selalu menemani dan menuntun untuk lebih dekat kepada-Mu.

Ya Allah..
Jagalah hati ini sampai tiba masanya..

readmore »»  
[ Read More.. ]

Saturday, October 27, 2012

Mahasiswa itu ada tipenya???

Beraneka ragam jenis mahasiswa terdapat di kampus, ini mahasiswa atau suaka marga satwa? Mungkin akan lebih mudah mengkategorikan keragaman tersebut dengan istilah-istilah hewan sesuai kebiasaan-kebiasaan mahasiswa secara umum.

Mungkin bukanlah sesuatu yang baru lagi ditelinga istilah mahasiswa kupu-kupu. Ya disebut kupu-kupu bukan karena mereka mempunyai sayap yang indah atau dua buah tentakel penghisap madunya. Tipe mahasiswa ini biasanya lebih didominasi oleh mereka yang memakai kaca mata, potongan rambut rapi, celana bahan berwarna gelap dan setiap harinya memakai kemeja, biasanya tipe mahasiswa ini adalah kumpulan dari mereka yang pintar dan rajin karena setiap harinya mereka hanya kuliah lalu pulang dan selalu belajar, tepat sekali disebut mahasiswa kupu-kupu (kuliah pulang-kuliah pulang). Yang menarik dari tipe mahasiswa ini adalah mereka akan mendadak menjadi idola teman-teman yang lain, walau hanya ketika ujian dan ketika ada pekerjaan rumah yang rumit saja.

Lalu ada lagi tipe mahasiswa kura-kura. Apa mereka mahasiswa yang jalannya lambat karena isi tas yang terlalu berat? Tentu tidak, tipe mahasiswa ini adalah mereka yang mengabdikan seluruh jiwa dan raganya untuk rakyat (kata mereka sih), lebih tepatnya mereka adalah bagian dari mahasiswa lain yang berkecimpung di dunia organisasi. Selain kuliah dikelas, mereka mempunyai segudang kegiatan. Ada kegiatan pasti ada persiapan dan persiapan tidak akan jauh dari kata yang namanya rapat. Ya benar sekali mereka yang menghabiskan waktu selain jam kuliahnya untuk rapat, mahasiswa kura-kura (kuliah rapat-kuliah rapat).

Dan tidak ketinggalan tipe mahasiswa ini, mahasiswa kunang-kunang. Mereka memang punya pesona, mengepakkan kedua sayapnya selangkah demi selangkah dan menari-nari di udara, tak lelah menerangi lingkungan sekitarnya yang gelap. Upps ini bukan tipe mahasiswa kunang-kunang tapi kunang-kunang asli hehehe...
Tipe mahasiswa ini mempunyai solidaritas yang tinggi. Bukan hanya itu, potongan lirik lagu band ternama mereka ambil dan mereka jadikan slogan. Pada sudah tahu kan apa yang saya maksud? Ya... benar sekali, “Makan ngga makan yang penting ngumpul”, band ternama yang karirnya bukan cuma di dunia musik saja, tapi mereka juga bergerak dalam bisnis distribusi air, Selang. Sehingga tak jarang tipe mahasiswa ini lebih memilih kuliah di kantin atau di mall-mall dekat kampus dibandingkan kuliah di kelas. Waduh disana kuliah apa ya? Ternyata mereka diskusi toh alias ngobrol. Tapi jangan salah loh, tipe mahasiswa ini semua pejabat-pejabat mahasiswa di kampus, ada ketua RT, ketua RW, lurah, camat, dan bahkan ada yang sudah jadi gubernur. Kok kampus udah seperti negara aja ya? Ohh ternyata mereka mayoritas sesepu kampus, mereka adalah orang-orang yang sangat mencintai kampus sehingga tak jarang melupakan topi segilima yang ada tali rumbainya. Tipe mahasiswa ini menghabiskan masa studinya hanya untuk nangkring-nangkring dari pada mengejar target lulus tepat waktu dengan nilai yang baik. Tidak salah lagi, inilah tipe mahasiswa kunang-kunang (kuliah nangkring-kuliah nangkring).

Termasuk tipe mahasiswa manakah teman-teman sekalian? Atau mungkin punya tipe sendiri yang dikategorikan berdasarkan kemiripan wajah dengan hewan yang bersangkutan? Hehehe... Just kidding.

Semua uraian diatas hanyalah lelucon semata yang kebenarannya hanya beberapa persen saja. Hal yang terpenting apupun tipe diri kita, minumnya tetap Teh Gelas Sastro. Ohh bukan, tetaplah menjadi pribadi yang memilki kepedulian dan loyalitas tinggi terhadap kampus dan tentunya tidak melupakan amanah kedua orang tua. Pada hakikatnya, IP (Indeks Prestasi) hanyalah bentuk tanggung jawab kita kepada orang tua, tetapi ilmu adalah bekal nyata akan pengabdian kita nanti kepada Nusa dan Bangsa.  Kuliah penting, organisasi juga penting, bersosialisasi juga tidak boleh dilupakan, semuanya harus seimbang agar dicapai tujuan yang telah menjadi impian.

readmore »»  
[ Read More.. ]

Thursday, October 25, 2012

Emas ditumpukan Sampah



Ketika seragam putih abu-abu kita simpan rapi didalam lemari baju dan perlahan kita lupakan, membuat hati bimbang akan kehidupan setelah itu, kuliah atau kerja? Melanjutkan pendidikan dibangku kuliah adalah cita-cita setiap orang, namun realita kehidupan yang kadang menguburkan semua angan.

Masuk perguruan tinggi ternama merupakan impian, selain alasan belajar dan menuntut ilmu, terkadang masalah gengsi merupakan faktor lain dalam memilih tempat berlabuh selanjutnya. Semua manusia memiliki rencana tetapi kenyataan adalah kehendak dari Yang Kuasa. Tak jarang sesuatu yang selama ini kita damba-dambakan menjadi milik orang lain, begitupun sebaliknya.

Mungkin ada beberapa orang yang sekarang sedang menjalani studi di perguruan tinggi ternama memandang sebelah mata teman-teman lain yang hanya mampu masuk di perguruan tinggi yang biasa saja, dan bahkan ada yang menganggap sebagai buangan. Namun jangan menanggapi itu sebagai sebuah hinaan, jadikan itu sebagai motivasi kita untuk lebih baik dari mereka, jadilah yang terbaik diantara yang lain.

Berterima kasihlah kepada mereka yang menganggap kita seperti sampah, karena mereka mengajarkan kita untuk sabar dan lebih gigih lagi untuk meraih cita-cita. Akan lebih baik menjadi emas ditumpukan sampah, dibandingkan menjadi sampah ditumpukan emas.

Hal terpenting yang harus kita tanamkan dihati adalah kita bukanlah buangan apalagi sampah seperti anggapan mereka, kita adalah orang-orang beruntung dan terpilih yang mampu melanjutkan pendidikan di bangku kuliah walau hanya di kampus kotak ini, karena masih banyak saudara-saudara kita yang memiliki cita-cita sama namun tidak memiliki kesempatan sebaik kita.

Manfaatkanlah kesempatan ini, jangan kecewakan kedua orang tua yang telah mengorbankan semuanya, jangan biarkan air mata keduanya menetes karena kegagalan kita, mereka yang selalu menantikan keberhasilan kita di rumah, tempat kita dilahirkan.

readmore »»  
[ Read More.. ]

Sunday, June 10, 2012

Bukan Salah Kita


Semua orang terlahir di dunia sama, terlahir dari rahim sang Ibu, bersih dari noda serta suci dari dosa. Kedua orang tuanyalah yang membuat si buah hati tersebut menjadi berbeda. Ketika si buah hati terlahir dari keluarga Muslim, maka orang tuanya akan mengajarkan sesuatu yang diajarkan oleh agama mereka yaitu Islam, begitu juga dengan mereka yang Nasrani, Yahudi dan Majusi.

Terlahir di dunia sebagai manusia bukanlah pilihan, jika sebelumnya kita bisa memilih, pasti kita akan memilih terlahir dari keluarga yang sholeh & sholehah, kaya raya, terhormat dan pasti akan meminta paras yang rupawan serta perawakan seperti ratu atau pangeran.

Mungkin disekitar kita banyak orang yang selalu mengeluh dengan keadaannya, menyesali kehidupan yang dijalani, orang tuanya, bahkan ada yang menyalahi Tuhan, Na’udzubillah. Biasanya mereka yang berpikir salah biasa menyebutnya nasib, “Emang udah nasib gue hidup susah” tapi mereka tidak ada usaha untuk berubah, selalu menyalahkan takdir.

Berbicara tentang takdir, takdir itu ada 2 yaitu takdir mubram dan takdir ghair mubram atau takdir mu’alaq. Apa itu takdir mubram? Dan apa pula takdir mu’alaq?

Takdir mubram merupakan ketetapan yang tidak bisa diubah, semua telah tercatat di Lauhul Hahfudz, contohnya ajal. Ketika seseorang dihadapkan pada sakaratul maut, tidak ada lagi sesuatu yang bisa dilakukan, kita hanya akan menerima ketepatan. Tanpa kita sadari, jauh sebelum kita terlahir di dunia, kita telah menyetujui bahwa kita nanti akan menjalani hidup di dunia dengan waktu yang semua mahluk tidak mengetahuinya, hanya Dia-lah yang punya pengetahuan tentang itu, jadi jangan pernah percaya ramalan ya.

Sedangkan takdir mu’alaq ialah ketetapan yang dapat berubah dan diubah sesuai dengan usaha yang dilakukan, contohnya rejeki. Mungkin tidak jarang kita melihat orang yang hidup bergelimang harta, jika kita berpikir dan bukan hanya melihat, sebenarnya semua kemewahan itu bukan cuma karena takdir mereka terlahir dari keluarga kaya, itu merupakan hasil kerja keras dan jerih payah. Tanpa kerja keras, mustahil semua itu bisa bertahan lama. Sebaliknya jika melihat mereka yang tinggal di kolong jembatan, emperan toko atau dan hidup di jalanan, itu bukanlah mutlak takdir mereka. Mereka mungkin bernasib kurang baik, terlahir dari keluarga yang tidak seberuntung yang lain, tapi bukan berarti mereka harus selamanya hidup dalam keadaan yang memilukan sampai harus mewarisi kepada keturunannya.

Ada sebuah ungkapan yang sangat menarik berkaitan dengan hal ini, mungkin bisa menjadi bahan renungan kita bersama, tapi saya lupa sumbernya hehehe...

“Bukan salah kita jika terlahir dalam keadaan miskin, tapi salah besar jika nanti kita mati dalam keadaan miskin”

Jadi kita jangan pernah mengeluh dan menyalahkan takdir, coba lihat kebawah, masih banyak orang-orang yang yang tidak seberuntung kita, hidup dalam kelaparan, tanpa kasih sayang dan jauh dari pendidikan. Bersyukurlah dengan apa yang kita miliki sekarang, walau hanya sementara saja. Berusahalah (ikhtiar) karena nasib hanya kita yang bisa merubahnya serta harus disertai dengan tawakal, karena hidup merupakan perjuangan, bukan menunggu giliran.

readmore »»  
[ Read More.. ]

Monday, March 19, 2012

Kita dan Jejaring Sosial



Perkembangan teknologi cyber tidak bisa di hindarkan. Perkembangan teknologi ibarat sebilah pisau yang memiliki dua sisi, tentu menghadirkan dampak positif dan dampak negatif. Kehadiran internet memberikan solusi tehadap kebutuhan masyarakat modern.

Seiring berjalannya perkembangan tersebut, lahirnya jejaring sosial yang menawarkan trend/gaya hidup baru. Lahirnya jejaring sosial memberikan banyak manfaat bagi penggunanya. Namun pada kenyataannya, tidak sedikit sisi kriminalitas yang mengintai dibalik itu semua, seperti penipuan, penjajakan seks, atau mungkin modus kejahatan lain. Targetnya tak lain para pengusaha dan anak-anak usia remaja seperti pelajar, mahasiswa, dan bahkan penerima beasiswa.

Jejaring sosial merupakan permainan baru yang lahir terus berkembang.  Perlunya kesiapan sebelum terjun dan larut kedalamnya. Sifat kehati-hatian juga diperlukan saat menggunakan agar tidak terjebak dengan kejahatan terselubung yang ada didalamnya.

Seiring berjalannya waktu, jejaring sosial yang bukan hanya dipandang sebagai trend saja, bahkan banyak yang menganggapnya sebagai suatu kebutuhan terutama remaja dan tak lepas juga mahasiswa, sehingga menyebabkan ketergantungan para penggunanya. Memang bukan tidak benar, usia tersebut merupakan masa-masa pencarian jati diri, ajang mengekspresikan diri, dan tidak sedikit juga yang melakukan hal-hal gila demi sebuah eksistensi.

Dalam menggunakan jejaring sosial, tentu adanya rambu-rambu yang mesti diperhatikan agar aman dan nyaman dalam menggunakannya tanpa harus mengancam privacy,  kita harus bijak dengan apa yang akan kita bagikan kepada teman-teman di jejaring sosial. Contohnya tidak membagikan perasaan hari ini, lokasi sekarang atau hal-hal lain yang sifatnya personal.

Masyarakat Indonesia merupakan salah satu cerminan masyarakat yang belum siap menerima kemajuan yang ada. Kita tahu bahwa masyarakat Indonesia merupakan masyarakat gotong-royong, penuh keakraban dan sangat kekeluargaan. Mungkin tidak pernah terlintas dipikiran kita bahwa jejaring sosial menciptakan sebuah komunikasi yang tidak efektif. Memang jejaring sosial mendekatkan kita dengan yang jauh, tetapi menjauhkan kita dari yang dekat, sehingga dapat menciptakan hubungan yang tidak harmonis.

Kita semua tentunya tidak mengharapkan hal tersebut terjadi. Perlu adanya sikap bijak menghadapi kemajuan yang terus berkembang. Marilah bersama-sama menggunakan jejaring sosial sesuai dengan kebutuhan masing-masing sehingga tidak melenyapkan jati diri bangsa. Alangkah mirisnya jika budaya heterogen penuh kekeluargaan masyarakat Indonesia digantikan dengan budaya barat yang sangat homogen.

readmore »»  
[ Read More.. ]

Friday, March 2, 2012

Berbagi itu Indah





“Semakin banyak kita memberi maka akan semakin banyak kita mengeluarkan”


Walaupun hanya sekedar lelucon, namun tanpa disadari masih banyak dari kita yang terus membiarkan ungkapan tersebut terus tumbuh dan berakar dihati. Dilihat dari kaca mata ekonomi tentu itu sangat benar, tetapi dari sudut pandang agama dengan memberi maka kelak kita akan memperoleh balasan atas apa yang telah kita keluarkan, pastinya harus dilakukan dengan ikhlas karena ikhlas adalah ruh dari amalan yang dilakukan.

Sebagai mahluk sosial, kita tidak luput dari peran orang lain dikehidupan kita. Orang kaya bisa dikatakan kaya ketika ada orang miskin, orang tinggi bisa dianggap tinggi ketika ia berada diantara orang lain yang pendek, seorang pemimpin bisa disebut pemimpin ketika ada orang lain yang dipimpinnya, begitu juga dengan orang pintar akan diakui kepintarannya atas kemampuan lebih yang Allah anugerahkan atas yang lainnya. Lantas kelebihan yang telah Allah berikan itu jangan sampai membuat manusia menjadi seorang yang arogan karena semua itu hanya sekedar titipan.

Berbagi itu indah. Ya... berbagi itu sesuatu yang mulia, pepatah lama yang mungkin tidak asing lagi ditelinga kita “tangan diatas lebih baik daipada tangan dibawah”. Namun pada kenyataannya tidak mudah untuk dilakukan walau itu sangat mudah untuk diucapkan.

Kembali ke lelucon awal tadi, ungkapan diatas tentunya tidak berlaku untuk ilmu, berbagi ilmu lebih tepatnya. Karena semakin banyak kita membagikan ilmu yang kita miliki, maka kita akan semakin mengerti dan menguasai ilmu itu sendiri. Sebenarnya apa sih peran ilmu dalam kehidupan manusia?
Tidak banyak yang bisa dilakukan tanpa ilmu, ilmulah yang membuat manusia itu hidup, berbuat, berkembang dan tumbuh lebih maju. Ilmu menjadikan hidup ini lebih mudah. Sebagai contoh: dulu orang harus membutuhkan waktu yang cukup lama untuk dapat mengirimkan sebuah surat kepada keluarga atau kerabat yang berada diluar pulau, sekarang hanya butuh waktu yang sangat singkat untuk bisa memberikan sebuah kabar atau berita, bahkan dapat berbicara langsung dalam waktu yang bersamaan. Kemajuan ilmu yang menciptakan telepon/handphone memotong banyak waktu, ruang dan waktu bukan lagi menjadi masalah.

Kampus adalah salah satu tempat formal menuntut ilmu, masalah pelajaran adalah masalah tersendiri yang timbul dari kita dan mereka yang sedang menyelesaikan program pendidikan. Namun kampus bukanlah satu-satunya wadah menuntut ilmu, organisasi; forum/perkumpulan dan lingkungan sekitar juga dapat memberikan banyak pelajaran yang dapat kita jadikan bekal untuk menjalani kehidupan hari esok yang lebih baik.

Beraneka ragam jenis mahasiswa terdapat di kampus, ini mahasiswa atau suaka marga satwa hehehe..
Kita terlahir di dunia dari keluarga yang berbeda dan pastinya dibekali kemampuan yang berbeda-beda pula. Masalah kemampuan biasanya menjadi problem mahasiswa di kampus. Tidak sedikit yang mengeluh dan tidak bersyukur atas apa yang telah Allah berikan kepada dirinya. Sebagian dari kita bukan tidak mungkin bisa seperti yang lainnya, hanya sifat malas yang kadang membelenggu manusia sehingga kesulitan dalam belajar. Walau pada kenyataannya ada minoritas yang memang mempunyai kemampuan yang tidak seperti kebanyakan orang, namun itu bukanlah alasan untuk tidak bisa menjadi seperti yang lainnya.

Berbicara tentang teman-teman yang memiliki kesulitan dalam menyerap apa yang diberikan dosen dikelas, sebagai makhluk yang dibekali hati tentu kita akan peka terhadap hal tersebut, namun dari kita  masih banyak yang tetap diam begitu saja dan terus pura-pura tidak tahu atas problem teman kita walau pada hakikatnya kita menyadarinya.

Tidak salah bahwa sebagian dari kita menganggap kuliah sebagai ajang kompetisi untuk menjadi lulusan terbaik ketika wisuda, namun tidak benar kalau harus bersikap acuh tak acuh bahkan saling sikut dan saling menjatuhkan demi sesuatu yang hanya sebatas kepuasan bathin semata. Ketika kita dengan mudah menyelesaikan program pendidikan dibangku kuliah sedangkan teman-teman yang lain masih saja disibukkan dengan kuliah mereka, hanya kita dan orang tua yang berada di auditorium yang dilengkapi dengan presidium wisuda dan beberapa dosen yang hadir, apakah kita pantas disebut lulusan terbaik?

Sebagai penutup saya akan membagikan apa yang pernah disampaikan oleh Imam Al-Ghazali, beliau mengatakan “Manusia pada dasarnya mati, kecuali orang yang berilmu. Orang yang berilmu walaupun dia hidup itu tidur, kecuali yang mengamalkan ilmunya. Dan orang yang mengamalkan ilmunya banyak yang tertipu, kecuali yang ikhlas didalam mengamalkannya”.

Apakah sekarang kita masih punya alasan untuk tidak belajar dan berbagi dengan ihklas??

readmore »»  
[ Read More.. ]

Saturday, February 25, 2012

Ilmu Vs Nilai

Mana yang Anda pilih?
Jeda waktu antar semester bagi mahasiswa kurang tepat jika disebut dengan liburan, walaupun hari-hari yang kita jalani tanpa tugas, pekerjaan rumah yang banyak, presentasi, laporan atau persiapan quis, membuat kita tidak sepenuhnya dapat menikmatinya untuk menenangkan hati dan pikiran. Arti liburan bagi seorang mahasiswa tidak adil saja jika disamakan dengan mereka yang masih duduk dibangku sekolah. Ngomong-ngomong tentang bangku sekolah, pasti secara spontanitas yang terlintas dipikiran kita semua adalah masa-masa indah ketika masih berseragam putih abu-abu. Hmm.. pada masa itu hampir semua dari kita sedang dilanda kelabilan atau biasa yang dikenal dengan ababil, yaitu abg labil atau sebagian orang lagi mengartikannya alay labil hehehe...

Walau kita sedang tidak dibayangi oleh permasalahan-permasalahan kuliah tersebut, namun ada beberapa permasalahan lain yang mengganggu masa-masa jeda antar semester kita. Iya pasti dari kita sepakat menjawab penyusunan rencana study untuk semester berikutnya, that's right...
Masalah baru dimulai, setelah galau dan gundah menyelimuti dari kita tentang mata kuliah apa saja yang baik untuk kita ambil disemester depan, lalu akan timbul lagi satu masalah yaitu dosen yang pantas untuk masing-masing mata kuliah yang akan kita ambil. Sampai disini apakah masalah sudah selesai? Tentu akan banyak keragaman jawaban dari kita. Sebenarnya masalah belum selesai begitu saja, lalu apa yang masih harus dibahas??

Setiap manusia dibekali kemampuan & watak yang berbeda-beda sehingga saat penyusunan rencana study, dosen menjadi trending topik dikalangan mahasiwa. Hampir karakter setiap dosen dibahas, mulai dari paras & penampilan; sifat, sikap & pembawaan ketika didalam & diluar kelas; cara penyampaian materi kuliah; PR, tugas, quis, soal ujian yang diberikan & sistem penilaian; yang tidak habis pikir sampai semua aibnya juga dikorek sampai akarnya (Na’udzubillah). Namun ada satu point penting yang biasanya menjadi alasan utama mahasiswa dalam memilih dosen, yaitu sistem penilaian. Dosen yang murah hati dalam memberikan nilai akan laris manis, nilai bagus tentunya.  Oleh karena itu muncul satu pertanyaan yang pantas untuk masalah tersebut:
“Sebenarnya kita kuliah itu untuk belajar & menuntut ilmu atau sekedar untuk mendapat nilai bagus?”

Mungkin selama ini kita tidak menyadari hal ini, yang terlintas di pikiran kita hanyalah bagaimana caranya supaya bisa lulus tepat waktu dan lulus dengan Indek Prestasi Komulatif (IPK) predikat Cum Laude. Tentu saja itu tidak salah, kita semua tentu mengharapkan hal itu, termasuk investor sekaligus donatur kita yaitu orang tua. Setiap orang tua pasti akan bangga jika anaknya duduk di deratan bangku terdepan saat acara wisuda berlangsung dan mereka akan berkata kepada orang tua mahasiswa lainnya “itu nama anak saya yang baru saja disebut, lulus tepat waktu dengan IPK *sekian*, sekarang dia duduknya di deretan bangku paling depan”. Tentu kita sebagai anak akan senang telah membuat orang tua bangga. Apakah sudah cukup dengan hanya membuat orang tua kita bangga ketika acara wisuda??

Apakah gelar sarjana saja sudah cukup untuk bekal kerja kerja nanti?
Sebelum pembahasan terlalu jauh, ada baiknya kita melihat sisi baik dan buruk tentang kuliah yang sungguh-sungguh menutut ilmu dengan kuliah yang hanya berburu nilai. Tentu akan timbul pro dan kontra terhadap kedua pernyataan tersebut.
Jika tujuan duduk dibangku kuliah hanya untuk mendapatkan nilai bagus saja, saran saya ubahlah kebiasan buruk itu sekarang kawan sebelum penyesalan akan datang dihari kemudian karena itu akan sangat merugikan. Bukan berarti kita kuliah tidak mengharapkan nilai bagus, namun jangan jadikan berburu nilai sebagai tujuan utama kita dari kuliah. Oke saya setuju bahwa tahap pertama dalam seleksi penerimaan karyawan suatu persahaan adalah nilai, walau tahap seleksi selanjutnya masalah keberuntungan saja hehehe

Nilai tanpa ilmu akan menjerumus-
kan seseorang di dunia kerja
Setelah kita bergabung dan menjadi bagian dari suatu perusahaan, tentu yang disugukan setiap hari dimeja kerja kita bukan formulir kosong yang pada baris pertamanya  berisi kolom “No”, kolom “Nama Mata Kuliah” dan kolom “Nilai” dimana kita akan mengisi itu saja setiap harinya, menyombongkan diri lalu pulang, melainkan pekerjaan-pekerjaan yang sesuai dengan bidang yang kita tekuni. Lantas apakah kita dapat menyelesaikan semua pekerjaan itu hanya dengan nilai bagus saja tanpa ilmu? Saya rasa kawan-kawan sudah punya jawabannya..

Sebaliknya dengan kuliah yang sungguh-sungguh menuntut ilmu, bukan berarti orang-orang yang menganut faham ini tidak memilah-milih dosen saat penyusunan rencana study. Lalu apa dong bedanya sama mereka yang hanya berburu nilai bagus? Bagi mereka dosen adalah guru yang akan memberikan semua ilmu, pengetahuan dan pengalamannya untuk bekal ketika mahasiswanya sudah terjun ke dunia kerja. Tipe dosen seperti ini lebih dikenal killer dan angker dikalangan mahasiswa, namun banyak dari kita kurang mengetahui bahwa mereka dosen yang dianggap killer dan angker itu sendiri memiliki sugudang ilmu yang siap mereka bagikan kepada mahasiswanya.

Nilai akan mengikuti
seiring usaha dan do'a
Berkaitan dengan hal ini, ada sesuatu yang ingin saya bagikan. Jika kita kuliah sungguh-sungguh menuntut ilmu maka kita akan dengan mudah menyerap semua yang disampaikan. Jika kita memperoleh semua yang telah diberikan maka tak dapat dipungkiri lagi kita akan dengan mudah menyelesaikan soal ujian, dengan catatan kita juga harus rajin mereview apa yang didapat saat kuliah dan belajar dari sumber-sumber lain. Sehingga jika ujiannya sukses tentu dengan sendirinya nilai pasti akan mengikuti.

Mari kembali kita renungi lagi bersama semester demi semester yang telah kita lalui..
Sudah sempurnakah belajar kita beberapa semester yang lalu untuk bekal kerja kita nanti? Sampai kapan kita harus menyia-nyiakan amanah belajar orang tua kita hanya untuk berburu nilai dan waktu study saja? Apakah dengan cara itu akan memenuhi cita-cita dan tujuan dari orang tua menyekolahkan anaknya sampai bangku kuliah? Sebagian dari kita akan melihat lagi kebelakang, mengintrospeksi diri dan merencanakan sesuatu yang akan dirinya lakukan dimasa mendatang. Sebagian lagi mungkin akan menutup mata & telinga, sifat acuh tak acuh karena mereka tahu akan diwarisi kekayaan yang banyak yang semuanya akan didapat setelah orang tuanya wafat nanti. Tapi alangkah sempurnanya jika semua fasilitas yang orang tua berikan sekarang kita jadikan media untuk meraih kesuksesan itu sendiri.


Pada hakikatnya keseksesan adalah milik kita dan ia akan lahir & tumbuh dari dalam diri kita sendiri.

readmore »»  
[ Read More.. ]

Friday, February 24, 2012

Kado untuk Generasi Mendatang


بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم 


Dilahirkan di muka bumi, apakah kita pernah berpikir untuk apa kita dilahirkan? Apa saja yang harus kita lakukan atas kesempatan hidup yang telah Allah berikan?  Dan apa yang akan terjadi pada kita saat ruh pergi meninggalkan jasad? Apakah setelah kita wafat semuanya akan selesai begitu saja? Ini hanyalah beberapa dari banyak pertanyaan yang harus dijawab oleh makhluk yang diturunkan ke muka bumi untuk menjadi khalifah.

Berbicara tentang kehidupan dunia, yang terpikirkan oleh setiap manusia adalah kehidupan yang sangat singkat. Benar sekali, kehidupan dunia itu sangat singkat. Manusia di muka bumi ibarat dedaunan yang berada dalam satu pohon yang sangat besar, ada yang masih pucuk langsung jatuh ke permukaan tanah, ada juga yang gugur ketika ia baru akan memberikan manfaat untuk pohon itu sendiri dan ada yang  yang mampu bertahan sampai layu & memberi banyak manfaat. Karena pada hakikatnya semua itu telah tertulis dengan nyata di Lauhul Mahfudz.

Lantas, setiap orang pasti tidak ingin menyia-nyiakan kehidupan yang hanya sebentar ini. Dunia hanyalah persinggahan dari perjalanan panjang, ini adalah awal yang nyata bagi kita manusia untuk dapat melakukan banyak hal karena dikehidupan selanjutnya tidak ada lagi aktivitas seperti sekarang, yang ada hanyalah pembalasan dari semua yang kita kerjakan di dunia. Seseorang yang buruk amalan hidupnya ketika di dunia maka ia akan menerima balasan yang sangat pedih (Na’udzubillah), sebaliknya jikalau baik perbuatan anak manusia selama masih di dunia maka Allah akan menyediakan tempat yang sangat indah baginya yaitu Syurga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya. Semoga kita termasuk kedalam golongan itu, Amin ya Rabb.. :D

Pembahasan jadi sedikit menyeleweng kemana-mana hehehe.. Walau itu bukan tujuan awal dari penulisan tulisan ini tapi tidak ada salahnya untuk saling mengingatkan.


“Harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading”
Itulah pribahasa yang sangat populer tatkala kita membahas tentang arti hidup yang singkat ini. Bukan berarti kita harus menyalahkan Allah yang mengutus kita ke muka bumi sebagai seorang manusia, bukan sebagai seekor harimau atau seekor gajah, semua itu merupakan kehendak-Nya karena Dia lebih mengetahui apa yang tidak kita ketahui.


Ketika kita sudah tiada, apakah orang lain masih akan mengenang kita? Jawabannya “iya”, kita akan dikenang mereka atas kebaikan atau keburukan ketika kita masih hidup tentunya. Lalu ketika mereka yang hidup berdampingan dengan kita juga telah tiada, siapa yang masih akan mengenang kita? Itulah yang pantas untuk kita renungi bersama mengingat kita selama ini hanya menghabiskan sisa umur kita tanpa melakukan sesuatu yang berarti buat generasi setelah kita. Lalu akan muncul sebuah pertanyaan lagi, lantas apa yang harus kita lakukan agar kita dapat terus dikenang semasa dunia masih ada? Inilah yang menarik untuk kita bahas bersama.

Saya ulangi lagi pertanyaan sebelumnya, apa yang harus kita lakukan agar kita dapat terus dikenang semasa dunia masih ada? Saya rasa jawaban yang cukup untuk mewakili adalah kita harus menghasilkan suatu karya besar yang dapat memberikan pengaruh terhadap kehidupan mendatang. Ada baiknya kita review lagi kebelakang, belajar dari mereka yang tetap dikenang walaupun mereka telah lama tiada, bukan hanya namanya tapi juga karyanya yang bermanfaat dan pengaruhnya terhadap kehidupan sekarang ini. Siapa saja mereka itu? Yang pasti bukan satu dan saya akan membagikan beberapa saja dari mereka yang sukses atas karya besar nya di masa lalu, yang sangat populer tentunya.

Sebagai seorang muslim, saya dan Anda pasti sangat mengidolakan beliau, beliau merupakan tauladan umat manusia, beliau adalah Rasulullah Muhammad SAW (570 SM - 632 SM). Muhammad SAW satu-satunya manusia dalam sejarah yang berhasil meraih sukses-sukses luar biasa baik dilihat dari kacamata agama maupun ruang lingkup duniawi. Berasal dari keluarga sederhana, Muhammad SAW menegakkan dan menyebarkan salah satu dari agama terbesar di dunia, agama Islam. Dan pada saat yang bersamaan tampil sebagai seorang pemimpin tangguh, tulen, dan efektif. Kini tiga belas abad sesudah wafatnya, pengaruhnya masih tetap kuat dan mendalam serta berakar. Sehingga tidak dapat dipungkiri lagi bahwa Muhammad SAW adalah manusia yang paling berpengaruh dalam sejarah manusia.

Mungkin kita sebagai seorang manusia akhir zaman tidak akan mampu menyamai beliau karena beliau adalah manusia pilihan yang di pilih langsung oleh Dzat yang memiliki alam semesta ini, jadi tidak usah bermimpi ya kawan sekalian, apalagi sampai membuat faham-faham baru, nanti di tangkap loh hehehe

Namun bukan berarti kita tidak bisa menjadikan kita sosok yang dapat dikenang semasa dunia masih ada. Lihatlah mereka yang berhasil menciptakan karya besar yang sampai sekarang masih dapat kita rasakan manfaatnya, seperti Isaac Newton (1642-1727), Albert Einstein (1879-1955), James Watt (1736-1819), Thomas Alva Edison (1847-1931) dan masih banyak lagi mereka dengan karya besarnya. Tidak menutup kemungkinan nama kita akan ada diantara mereka nanti, InsyaAllah.


Lalu dari kita pasti ada yang berkata “saya bukan anak teknik”. Tenang kawan, karya besar itu bukan harus sesuatu konkrit yang berbau teknik, masih banyak sesuatu yang dapat dibuat, pastinya yang dapat memberikan manfaat kepada banyak orang, misalnya tulisan.


Dengan sebuah tulisan kita dapat memberikan informasi & berbagi pengetahuan serta dapat mengutarakan gagasaan. Dengan tulisan kita juga dapat mencurahkan semua isi hati kita di kala itu. Tulisan yang bermanfaat akan menjadikan ia sesuatu yang dapat memberikan banyak motivasi, bahan introspeksi dan sumber inspirasi bagi banyak orang.

Keberhasilan besar itu bukan lahir begitu saja, tapi ia lahir dan tumbuh dari sesuatu kecil yang sederhana, butuh waktu dan perjuangan untuk dapat menjadi besar.
So... Mulailah dari sekarang, karena jika kita tidak mencoba hari ini lebih baik tidak sama sekali, karena kesempatan baik itu hanya datang sekali dan waktu yang telah pergi tidak mungkin bisa kembali.

Banyak hal yang menarik yang bisa kita angkat kepermukaan untuk dibahas, tapi apalah daya waktu  membatasi kita. Saya berbicara disini bukan berarti saya lebih baik dari kawan-kawan sekalian. Jujur ini pertama kali saya menulis, jadi mohon saran & masukan untuk saya pribadi agar lebih baik lagi kedepan dan mohon dimaafkan jika ada pilihan kata yang salah dan mungkin menyinggung, tidak ada maksud sama sekali, saya hanyalah mahluk lemah yang jauh dari kesempurnaan, karena kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT.

readmore »»  
[ Read More.. ]