Saturday, February 25, 2012

Ilmu Vs Nilai

Mana yang Anda pilih?
Jeda waktu antar semester bagi mahasiswa kurang tepat jika disebut dengan liburan, walaupun hari-hari yang kita jalani tanpa tugas, pekerjaan rumah yang banyak, presentasi, laporan atau persiapan quis, membuat kita tidak sepenuhnya dapat menikmatinya untuk menenangkan hati dan pikiran. Arti liburan bagi seorang mahasiswa tidak adil saja jika disamakan dengan mereka yang masih duduk dibangku sekolah. Ngomong-ngomong tentang bangku sekolah, pasti secara spontanitas yang terlintas dipikiran kita semua adalah masa-masa indah ketika masih berseragam putih abu-abu. Hmm.. pada masa itu hampir semua dari kita sedang dilanda kelabilan atau biasa yang dikenal dengan ababil, yaitu abg labil atau sebagian orang lagi mengartikannya alay labil hehehe...

Walau kita sedang tidak dibayangi oleh permasalahan-permasalahan kuliah tersebut, namun ada beberapa permasalahan lain yang mengganggu masa-masa jeda antar semester kita. Iya pasti dari kita sepakat menjawab penyusunan rencana study untuk semester berikutnya, that's right...
Masalah baru dimulai, setelah galau dan gundah menyelimuti dari kita tentang mata kuliah apa saja yang baik untuk kita ambil disemester depan, lalu akan timbul lagi satu masalah yaitu dosen yang pantas untuk masing-masing mata kuliah yang akan kita ambil. Sampai disini apakah masalah sudah selesai? Tentu akan banyak keragaman jawaban dari kita. Sebenarnya masalah belum selesai begitu saja, lalu apa yang masih harus dibahas??

Setiap manusia dibekali kemampuan & watak yang berbeda-beda sehingga saat penyusunan rencana study, dosen menjadi trending topik dikalangan mahasiwa. Hampir karakter setiap dosen dibahas, mulai dari paras & penampilan; sifat, sikap & pembawaan ketika didalam & diluar kelas; cara penyampaian materi kuliah; PR, tugas, quis, soal ujian yang diberikan & sistem penilaian; yang tidak habis pikir sampai semua aibnya juga dikorek sampai akarnya (Na’udzubillah). Namun ada satu point penting yang biasanya menjadi alasan utama mahasiswa dalam memilih dosen, yaitu sistem penilaian. Dosen yang murah hati dalam memberikan nilai akan laris manis, nilai bagus tentunya.  Oleh karena itu muncul satu pertanyaan yang pantas untuk masalah tersebut:
“Sebenarnya kita kuliah itu untuk belajar & menuntut ilmu atau sekedar untuk mendapat nilai bagus?”

Mungkin selama ini kita tidak menyadari hal ini, yang terlintas di pikiran kita hanyalah bagaimana caranya supaya bisa lulus tepat waktu dan lulus dengan Indek Prestasi Komulatif (IPK) predikat Cum Laude. Tentu saja itu tidak salah, kita semua tentu mengharapkan hal itu, termasuk investor sekaligus donatur kita yaitu orang tua. Setiap orang tua pasti akan bangga jika anaknya duduk di deratan bangku terdepan saat acara wisuda berlangsung dan mereka akan berkata kepada orang tua mahasiswa lainnya “itu nama anak saya yang baru saja disebut, lulus tepat waktu dengan IPK *sekian*, sekarang dia duduknya di deretan bangku paling depan”. Tentu kita sebagai anak akan senang telah membuat orang tua bangga. Apakah sudah cukup dengan hanya membuat orang tua kita bangga ketika acara wisuda??

Apakah gelar sarjana saja sudah cukup untuk bekal kerja kerja nanti?
Sebelum pembahasan terlalu jauh, ada baiknya kita melihat sisi baik dan buruk tentang kuliah yang sungguh-sungguh menutut ilmu dengan kuliah yang hanya berburu nilai. Tentu akan timbul pro dan kontra terhadap kedua pernyataan tersebut.
Jika tujuan duduk dibangku kuliah hanya untuk mendapatkan nilai bagus saja, saran saya ubahlah kebiasan buruk itu sekarang kawan sebelum penyesalan akan datang dihari kemudian karena itu akan sangat merugikan. Bukan berarti kita kuliah tidak mengharapkan nilai bagus, namun jangan jadikan berburu nilai sebagai tujuan utama kita dari kuliah. Oke saya setuju bahwa tahap pertama dalam seleksi penerimaan karyawan suatu persahaan adalah nilai, walau tahap seleksi selanjutnya masalah keberuntungan saja hehehe

Nilai tanpa ilmu akan menjerumus-
kan seseorang di dunia kerja
Setelah kita bergabung dan menjadi bagian dari suatu perusahaan, tentu yang disugukan setiap hari dimeja kerja kita bukan formulir kosong yang pada baris pertamanya  berisi kolom “No”, kolom “Nama Mata Kuliah” dan kolom “Nilai” dimana kita akan mengisi itu saja setiap harinya, menyombongkan diri lalu pulang, melainkan pekerjaan-pekerjaan yang sesuai dengan bidang yang kita tekuni. Lantas apakah kita dapat menyelesaikan semua pekerjaan itu hanya dengan nilai bagus saja tanpa ilmu? Saya rasa kawan-kawan sudah punya jawabannya..

Sebaliknya dengan kuliah yang sungguh-sungguh menuntut ilmu, bukan berarti orang-orang yang menganut faham ini tidak memilah-milih dosen saat penyusunan rencana study. Lalu apa dong bedanya sama mereka yang hanya berburu nilai bagus? Bagi mereka dosen adalah guru yang akan memberikan semua ilmu, pengetahuan dan pengalamannya untuk bekal ketika mahasiswanya sudah terjun ke dunia kerja. Tipe dosen seperti ini lebih dikenal killer dan angker dikalangan mahasiswa, namun banyak dari kita kurang mengetahui bahwa mereka dosen yang dianggap killer dan angker itu sendiri memiliki sugudang ilmu yang siap mereka bagikan kepada mahasiswanya.

Nilai akan mengikuti
seiring usaha dan do'a
Berkaitan dengan hal ini, ada sesuatu yang ingin saya bagikan. Jika kita kuliah sungguh-sungguh menuntut ilmu maka kita akan dengan mudah menyerap semua yang disampaikan. Jika kita memperoleh semua yang telah diberikan maka tak dapat dipungkiri lagi kita akan dengan mudah menyelesaikan soal ujian, dengan catatan kita juga harus rajin mereview apa yang didapat saat kuliah dan belajar dari sumber-sumber lain. Sehingga jika ujiannya sukses tentu dengan sendirinya nilai pasti akan mengikuti.

Mari kembali kita renungi lagi bersama semester demi semester yang telah kita lalui..
Sudah sempurnakah belajar kita beberapa semester yang lalu untuk bekal kerja kita nanti? Sampai kapan kita harus menyia-nyiakan amanah belajar orang tua kita hanya untuk berburu nilai dan waktu study saja? Apakah dengan cara itu akan memenuhi cita-cita dan tujuan dari orang tua menyekolahkan anaknya sampai bangku kuliah? Sebagian dari kita akan melihat lagi kebelakang, mengintrospeksi diri dan merencanakan sesuatu yang akan dirinya lakukan dimasa mendatang. Sebagian lagi mungkin akan menutup mata & telinga, sifat acuh tak acuh karena mereka tahu akan diwarisi kekayaan yang banyak yang semuanya akan didapat setelah orang tuanya wafat nanti. Tapi alangkah sempurnanya jika semua fasilitas yang orang tua berikan sekarang kita jadikan media untuk meraih kesuksesan itu sendiri.


Pada hakikatnya keseksesan adalah milik kita dan ia akan lahir & tumbuh dari dalam diri kita sendiri.


No comments:

Post a Comment