Monday, January 14, 2013

Ketika Seminar Mengubahmu Menjadi Mahluk Nokturnal


Nggak terasa sebentar lagi Seminar udah harus dikumpul dan pengerjaan belum setengahnya, sedangkan data yang gue butuhin belum ada ditangan. Yang paling bikin galau ya hampir semua referensi yang berkaitan dengan judul gue bahasa Inggris. Dulu kecil sih emang pernah lama di Inggris, tapi sayang penduduknya pada pakai bahasa isyarat, jadi inggris gue ya beginilah, dibilang nggak bisa ya bisa, dibilang bisa ya pas-pas-an, jadi suasananya tiba-tiba berubah aja kalo liat tulisan yang ada kata “yes” atau “no” nya.

Oh ya, pada tau nggak Seminar itu apa? Kata dosen pembimbing gue, Seminar itu pertemuan ilmiah untuk membahas suatu masalah, ya suatu sumbangan mandiri dengan menerapkan ilmu yang udah kita dapetin selama duduk dibangku kuliah, seperti skripsilah tapi pengerjaanna sekitar 75%-nya, jadi seminar ini juga ada sidangnya. Seminar juga bisa dilanjutin ke skripsi. Kalo seminarnya udah mantap, jadi skripsinya jadi agak santai karena kurang lebih 75%-nya udah dikerjain.

Sambil nunggu download-an bahan gue selesai, curhat dikit boleh kali, sekaligus berbagi suka duka mahasiswa tingkat akhir.

Dini hari ini adalah dini hari yang keberapa gitu dimana gue tetep harus melek melawan rasa kantuk yang sangat. Jujur pengen banget bisa tidur nyenyak dan mimpiin sesuatu yang indah-indah. Tapi gue malah bermimpi saat gue sadar, gue lebih suka tertidur diatas textbook terus mimpi buruk. Wow... sesuatu yang nggak pernah kebayang waktu gue daftar kuliah dulu. Waktu SMA dulu gue pikir kuliah itu enak seperti yang diceritain abang-abang gue yang dulu udah mahasiswa; ngekost, ngampus pakai jeans, gondrong, suka-suka, mau masuk ya masuk mau nggak ya nggak.

Tapi seenggaknya gue udah ngerasain gimana nikmatnya jadi mahasiswa. Ya seperti gue bilang tadi; ngekost, ngampus pake jeans, rambut gondrong, pake sendal jepit, terus kabur kalo ada dosen yang liat gue pake sendal jepit. Tapi sekarang inilah masanya, semester-semester yang lalu gue ambil SKS banyak tapi nggak ada masalah sama jam tidur, tapi semester ini dikit SKS nya, tapi sibuknya? Beeeegggghhh...

Tapi inilah hidup, gue nggak boleh berhenti berjuang, karena orang tua menunggu keberhasilan gue di rumah, tempat gue dilahirkan.

readmore »»  
[ Read More.. ]

Sunday, November 4, 2012

Inikah Fitrah atau Sekedar Nafsu Duniawi


Ketika raga mulai tumbuh dewasa,
Ketika amal kebaikan mulai dihisab,
Ketika rasa mulai tumbuh dihati,
Ketika asa dihantui rasa patah hati,
Membuat manusia lupa akan kebahagiaan yang hakiki.

Semua orang pasti mengalami,
Tak pandang usia apalagi harta,
Rasa ini tumbuh dan bersemi dihati,
Akan berdosa dikala belum waktunya,
Akan bahagia jika telah sampai masanya.

Ya Allah yang membolak-balikkan hati kami..
Apakah ini fitrah atau sekedar nafsu duniawi?


Ketika masih usia kanak-kanak, kebahagian terbesar adalah ketika mempuyai boneka yang banyak atau koleksi mainan dari tokoh super hero yang sangat lengkap. Kebahagiaan tersebut tentu bertahan tidak lama, seragam putih-merah mulai membuat itu semua lenyap, tokoh super hero yang selama ini dibangga-banggakan atau boneka cantik hadiah ulang tahun dari Ibu dibuat tidak berdaya ketika harus dimasukkan kedalam lemari kaca.

Masa kanak-kanak mengingatkan kita akan kasih sayang kedua orang tua ketika kita masih kecil dahulu. Rasa manja terkadang membuat mereka tersiksa, menuruti semua kehendak kita. Stop..!! Ini membuat saya merindukan mereka di rumah (maklum anak kost, jauh dari orang tua).

Setelah tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang semakin dewasa, akan ada satu rasa yang merupakan fitrah yang dititipkan Allah kepada manusia. Semua dari kita pasti akan sepakat dan memiliki jawaban yang sama.

Cintut atau versi alaynya Lop3, LuV, LuPh, dan sebagainya (saya tidak tahu banyak), bukanlah perkara yang tabu lagi dikehidupan remaja, mungkin semua sudah pernah mengalaminya bahkan sudah berkali-kali.

Kata cintut tentu tidak luput dari kata bahagia dan patah hati. Dikalangan remaja, ini menjadi bahasan utama ketika lagi bersama. Ya... Ada istilah kasmaran, PDKT, jadian, putus dan bla bla bla.

Masa remaja sebenarnya bukanlah masa-masa yang semestinya harus kita habiskan untuk hal-hal seperti tersebut. Lagu musisi 90-an “Kisah Kasih di Sekolah” dan pengaruh budaya barat membuat banyak remaja zaman sekarang sepertinya berlomba-lomba untuk untuk memperoleh kebahagiaan yang kadang hanya 1 bulan, 6 bulan, 3 tahun atau bahkan ada yang berakhir pelaminan. Namun apakah itu bisa dianggap sebagai sebuah kebahagiaan?

Perkembangan zaman dan pengaruh budaya barat menyebabkan pergeseran nilai-nilai, sesuatu yang nyata-nyata halal disamar-samarkan dan dibuat menjadi haram, begitu juga yang haram sekarang sudah dipandang sebagai sesuatu yang halal. Judi sekarang dianggap sebagai hiburan, membuka aurat menjadi trend berpakaian, pacaran menjadi ajang perkenalan.

Kehidupan remaja mungkin tak luput dari satu kata yang banyak membius dan menjerumuskan banyak generasi muda saat ini, tepat sekali “pacaran”. Bukan hanya remaja, anak bau kencur pun sekarang sudah banyak terjangkit penyakit ini.

Sebagai seorang remaja tentu akan timbul pilihan di hati kita, mengikuti trend yang sedang marak atau tetap menjaga dan menunggu tiba masanya kelak. Ungkapan “hari gini ngga punya pacar, kasian banget sih elo” sering sekali mungkin kita dengar, bercanda dengan pesan terselubung mencela. Lantas jangan sampai ungkapan tersebut membuat hati kita goyah. Ketika mereka berkata seperti itu, maka berdo’alah dalam hati “Ya Allah.. Jagalah hati ini sampai tiba waktunya”.

Nafsu membuat manusia berbelok ke jalan kesesatan. Bukan hanya remaja, orang tua pun terkadang juga tak luput, bahkan aktivis dakwah sekalipun. Pengetahuan dan pemahaman agama tidak menjamin akan lepas dari hal ini. Agama sering digunakan sebagai alat untuk  membenarkan penyelewengannya. Mereka tahu bahwa pacaran itu haram, tapi mereka berusaha menyamarkan dan menyebutnya dengan “pacaran islami”. Adakah istilah tersebut dalam Islam?

Banyak dari kita pernah terjerumus di masa lalu dan mungkin sampai sekarang masih banyak juga yang terus mempertahankannya. Ingatlah.. Jalan masih panjang, masa lajang jangan membuat kita tergiur dengan kesesatan yang ditawarkan, nafsu duniawi yang akan menghancurkan masa depan. Pernikahan adalah solusi yang tepat, bukan pacaran. Memang pernikahan merupakan perkara yang sangat mudah untuk dilaksanakan, namun hari-hari yang akan dilalui setelah itu tentu memerlukan persiapan yang sangat matang.

Kita sudah melewati hari-hari yang penuh hura-hura, banyak kesempatan belajar telah kita lewatkan begitu saja, sampai pada saatnya kelak tidak ada sedikitpun persiapan untuk menjalani bahtera rumah tangga. Jangan pernah menganggap pernikahan sebagai sesuatu yang tabu, karena tentu semua dari kita akan menjalankannya, terutama laki-laki yang akan menjadi imam bagi keluarganya kelak. Kepala keluarga layaknya nahkoda dalam sebuah kapal, ia menjadi pemimpin dan penuntun bagi keluarganya untuk dapat mencapai sebuah tujuan, terjangan ombak atau  halangan badai merupakan rintangan yang harus di sikapi dengan bijak dan di hadapi bersama, bukan hanya duniawi tetapi tujuan hidup yang hakiki yaitu akhirat. Pengatahuan dan pemahaman agama tentu sangat diperlukan untuk dapat menggapai cita-cita keluarga yang sakinah, mawaddah wa rohmah.

Ya Allah yang membolak-balikkan hati kami..
Jangan Engkau jadikan rasa ini membuat kami jauh dari-Mu,
Mengurangi rasa cinta kepada-Mu.
Berikanlah kelak pasangan dengan ketulusan hati,
Selalu menemani dan menuntun untuk lebih dekat kepada-Mu.

Ya Allah..
Jagalah hati ini sampai tiba masanya..

readmore »»  
[ Read More.. ]

Saturday, October 27, 2012

Mahasiswa itu ada tipenya???

Beraneka ragam jenis mahasiswa terdapat di kampus, ini mahasiswa atau suaka marga satwa? Mungkin akan lebih mudah mengkategorikan keragaman tersebut dengan istilah-istilah hewan sesuai kebiasaan-kebiasaan mahasiswa secara umum.

Mungkin bukanlah sesuatu yang baru lagi ditelinga istilah mahasiswa kupu-kupu. Ya disebut kupu-kupu bukan karena mereka mempunyai sayap yang indah atau dua buah tentakel penghisap madunya. Tipe mahasiswa ini biasanya lebih didominasi oleh mereka yang memakai kaca mata, potongan rambut rapi, celana bahan berwarna gelap dan setiap harinya memakai kemeja, biasanya tipe mahasiswa ini adalah kumpulan dari mereka yang pintar dan rajin karena setiap harinya mereka hanya kuliah lalu pulang dan selalu belajar, tepat sekali disebut mahasiswa kupu-kupu (kuliah pulang-kuliah pulang). Yang menarik dari tipe mahasiswa ini adalah mereka akan mendadak menjadi idola teman-teman yang lain, walau hanya ketika ujian dan ketika ada pekerjaan rumah yang rumit saja.

Lalu ada lagi tipe mahasiswa kura-kura. Apa mereka mahasiswa yang jalannya lambat karena isi tas yang terlalu berat? Tentu tidak, tipe mahasiswa ini adalah mereka yang mengabdikan seluruh jiwa dan raganya untuk rakyat (kata mereka sih), lebih tepatnya mereka adalah bagian dari mahasiswa lain yang berkecimpung di dunia organisasi. Selain kuliah dikelas, mereka mempunyai segudang kegiatan. Ada kegiatan pasti ada persiapan dan persiapan tidak akan jauh dari kata yang namanya rapat. Ya benar sekali mereka yang menghabiskan waktu selain jam kuliahnya untuk rapat, mahasiswa kura-kura (kuliah rapat-kuliah rapat).

Dan tidak ketinggalan tipe mahasiswa ini, mahasiswa kunang-kunang. Mereka memang punya pesona, mengepakkan kedua sayapnya selangkah demi selangkah dan menari-nari di udara, tak lelah menerangi lingkungan sekitarnya yang gelap. Upps ini bukan tipe mahasiswa kunang-kunang tapi kunang-kunang asli hehehe...
Tipe mahasiswa ini mempunyai solidaritas yang tinggi. Bukan hanya itu, potongan lirik lagu band ternama mereka ambil dan mereka jadikan slogan. Pada sudah tahu kan apa yang saya maksud? Ya... benar sekali, “Makan ngga makan yang penting ngumpul”, band ternama yang karirnya bukan cuma di dunia musik saja, tapi mereka juga bergerak dalam bisnis distribusi air, Selang. Sehingga tak jarang tipe mahasiswa ini lebih memilih kuliah di kantin atau di mall-mall dekat kampus dibandingkan kuliah di kelas. Waduh disana kuliah apa ya? Ternyata mereka diskusi toh alias ngobrol. Tapi jangan salah loh, tipe mahasiswa ini semua pejabat-pejabat mahasiswa di kampus, ada ketua RT, ketua RW, lurah, camat, dan bahkan ada yang sudah jadi gubernur. Kok kampus udah seperti negara aja ya? Ohh ternyata mereka mayoritas sesepu kampus, mereka adalah orang-orang yang sangat mencintai kampus sehingga tak jarang melupakan topi segilima yang ada tali rumbainya. Tipe mahasiswa ini menghabiskan masa studinya hanya untuk nangkring-nangkring dari pada mengejar target lulus tepat waktu dengan nilai yang baik. Tidak salah lagi, inilah tipe mahasiswa kunang-kunang (kuliah nangkring-kuliah nangkring).

Termasuk tipe mahasiswa manakah teman-teman sekalian? Atau mungkin punya tipe sendiri yang dikategorikan berdasarkan kemiripan wajah dengan hewan yang bersangkutan? Hehehe... Just kidding.

Semua uraian diatas hanyalah lelucon semata yang kebenarannya hanya beberapa persen saja. Hal yang terpenting apupun tipe diri kita, minumnya tetap Teh Gelas Sastro. Ohh bukan, tetaplah menjadi pribadi yang memilki kepedulian dan loyalitas tinggi terhadap kampus dan tentunya tidak melupakan amanah kedua orang tua. Pada hakikatnya, IP (Indeks Prestasi) hanyalah bentuk tanggung jawab kita kepada orang tua, tetapi ilmu adalah bekal nyata akan pengabdian kita nanti kepada Nusa dan Bangsa.  Kuliah penting, organisasi juga penting, bersosialisasi juga tidak boleh dilupakan, semuanya harus seimbang agar dicapai tujuan yang telah menjadi impian.

readmore »»  
[ Read More.. ]

Thursday, October 25, 2012

Emas ditumpukan Sampah



Ketika seragam putih abu-abu kita simpan rapi didalam lemari baju dan perlahan kita lupakan, membuat hati bimbang akan kehidupan setelah itu, kuliah atau kerja? Melanjutkan pendidikan dibangku kuliah adalah cita-cita setiap orang, namun realita kehidupan yang kadang menguburkan semua angan.

Masuk perguruan tinggi ternama merupakan impian, selain alasan belajar dan menuntut ilmu, terkadang masalah gengsi merupakan faktor lain dalam memilih tempat berlabuh selanjutnya. Semua manusia memiliki rencana tetapi kenyataan adalah kehendak dari Yang Kuasa. Tak jarang sesuatu yang selama ini kita damba-dambakan menjadi milik orang lain, begitupun sebaliknya.

Mungkin ada beberapa orang yang sekarang sedang menjalani studi di perguruan tinggi ternama memandang sebelah mata teman-teman lain yang hanya mampu masuk di perguruan tinggi yang biasa saja, dan bahkan ada yang menganggap sebagai buangan. Namun jangan menanggapi itu sebagai sebuah hinaan, jadikan itu sebagai motivasi kita untuk lebih baik dari mereka, jadilah yang terbaik diantara yang lain.

Berterima kasihlah kepada mereka yang menganggap kita seperti sampah, karena mereka mengajarkan kita untuk sabar dan lebih gigih lagi untuk meraih cita-cita. Akan lebih baik menjadi emas ditumpukan sampah, dibandingkan menjadi sampah ditumpukan emas.

Hal terpenting yang harus kita tanamkan dihati adalah kita bukanlah buangan apalagi sampah seperti anggapan mereka, kita adalah orang-orang beruntung dan terpilih yang mampu melanjutkan pendidikan di bangku kuliah walau hanya di kampus kotak ini, karena masih banyak saudara-saudara kita yang memiliki cita-cita sama namun tidak memiliki kesempatan sebaik kita.

Manfaatkanlah kesempatan ini, jangan kecewakan kedua orang tua yang telah mengorbankan semuanya, jangan biarkan air mata keduanya menetes karena kegagalan kita, mereka yang selalu menantikan keberhasilan kita di rumah, tempat kita dilahirkan.

readmore »»  
[ Read More.. ]

Sunday, June 10, 2012

Bukan Salah Kita


Semua orang terlahir di dunia sama, terlahir dari rahim sang Ibu, bersih dari noda serta suci dari dosa. Kedua orang tuanyalah yang membuat si buah hati tersebut menjadi berbeda. Ketika si buah hati terlahir dari keluarga Muslim, maka orang tuanya akan mengajarkan sesuatu yang diajarkan oleh agama mereka yaitu Islam, begitu juga dengan mereka yang Nasrani, Yahudi dan Majusi.

Terlahir di dunia sebagai manusia bukanlah pilihan, jika sebelumnya kita bisa memilih, pasti kita akan memilih terlahir dari keluarga yang sholeh & sholehah, kaya raya, terhormat dan pasti akan meminta paras yang rupawan serta perawakan seperti ratu atau pangeran.

Mungkin disekitar kita banyak orang yang selalu mengeluh dengan keadaannya, menyesali kehidupan yang dijalani, orang tuanya, bahkan ada yang menyalahi Tuhan, Na’udzubillah. Biasanya mereka yang berpikir salah biasa menyebutnya nasib, “Emang udah nasib gue hidup susah” tapi mereka tidak ada usaha untuk berubah, selalu menyalahkan takdir.

Berbicara tentang takdir, takdir itu ada 2 yaitu takdir mubram dan takdir ghair mubram atau takdir mu’alaq. Apa itu takdir mubram? Dan apa pula takdir mu’alaq?

Takdir mubram merupakan ketetapan yang tidak bisa diubah, semua telah tercatat di Lauhul Hahfudz, contohnya ajal. Ketika seseorang dihadapkan pada sakaratul maut, tidak ada lagi sesuatu yang bisa dilakukan, kita hanya akan menerima ketepatan. Tanpa kita sadari, jauh sebelum kita terlahir di dunia, kita telah menyetujui bahwa kita nanti akan menjalani hidup di dunia dengan waktu yang semua mahluk tidak mengetahuinya, hanya Dia-lah yang punya pengetahuan tentang itu, jadi jangan pernah percaya ramalan ya.

Sedangkan takdir mu’alaq ialah ketetapan yang dapat berubah dan diubah sesuai dengan usaha yang dilakukan, contohnya rejeki. Mungkin tidak jarang kita melihat orang yang hidup bergelimang harta, jika kita berpikir dan bukan hanya melihat, sebenarnya semua kemewahan itu bukan cuma karena takdir mereka terlahir dari keluarga kaya, itu merupakan hasil kerja keras dan jerih payah. Tanpa kerja keras, mustahil semua itu bisa bertahan lama. Sebaliknya jika melihat mereka yang tinggal di kolong jembatan, emperan toko atau dan hidup di jalanan, itu bukanlah mutlak takdir mereka. Mereka mungkin bernasib kurang baik, terlahir dari keluarga yang tidak seberuntung yang lain, tapi bukan berarti mereka harus selamanya hidup dalam keadaan yang memilukan sampai harus mewarisi kepada keturunannya.

Ada sebuah ungkapan yang sangat menarik berkaitan dengan hal ini, mungkin bisa menjadi bahan renungan kita bersama, tapi saya lupa sumbernya hehehe...

“Bukan salah kita jika terlahir dalam keadaan miskin, tapi salah besar jika nanti kita mati dalam keadaan miskin”

Jadi kita jangan pernah mengeluh dan menyalahkan takdir, coba lihat kebawah, masih banyak orang-orang yang yang tidak seberuntung kita, hidup dalam kelaparan, tanpa kasih sayang dan jauh dari pendidikan. Bersyukurlah dengan apa yang kita miliki sekarang, walau hanya sementara saja. Berusahalah (ikhtiar) karena nasib hanya kita yang bisa merubahnya serta harus disertai dengan tawakal, karena hidup merupakan perjuangan, bukan menunggu giliran.

readmore »»  
[ Read More.. ]

Monday, March 19, 2012

Kita dan Jejaring Sosial



Perkembangan teknologi cyber tidak bisa di hindarkan. Perkembangan teknologi ibarat sebilah pisau yang memiliki dua sisi, tentu menghadirkan dampak positif dan dampak negatif. Kehadiran internet memberikan solusi tehadap kebutuhan masyarakat modern.

Seiring berjalannya perkembangan tersebut, lahirnya jejaring sosial yang menawarkan trend/gaya hidup baru. Lahirnya jejaring sosial memberikan banyak manfaat bagi penggunanya. Namun pada kenyataannya, tidak sedikit sisi kriminalitas yang mengintai dibalik itu semua, seperti penipuan, penjajakan seks, atau mungkin modus kejahatan lain. Targetnya tak lain para pengusaha dan anak-anak usia remaja seperti pelajar, mahasiswa, dan bahkan penerima beasiswa.

Jejaring sosial merupakan permainan baru yang lahir terus berkembang.  Perlunya kesiapan sebelum terjun dan larut kedalamnya. Sifat kehati-hatian juga diperlukan saat menggunakan agar tidak terjebak dengan kejahatan terselubung yang ada didalamnya.

Seiring berjalannya waktu, jejaring sosial yang bukan hanya dipandang sebagai trend saja, bahkan banyak yang menganggapnya sebagai suatu kebutuhan terutama remaja dan tak lepas juga mahasiswa, sehingga menyebabkan ketergantungan para penggunanya. Memang bukan tidak benar, usia tersebut merupakan masa-masa pencarian jati diri, ajang mengekspresikan diri, dan tidak sedikit juga yang melakukan hal-hal gila demi sebuah eksistensi.

Dalam menggunakan jejaring sosial, tentu adanya rambu-rambu yang mesti diperhatikan agar aman dan nyaman dalam menggunakannya tanpa harus mengancam privacy,  kita harus bijak dengan apa yang akan kita bagikan kepada teman-teman di jejaring sosial. Contohnya tidak membagikan perasaan hari ini, lokasi sekarang atau hal-hal lain yang sifatnya personal.

Masyarakat Indonesia merupakan salah satu cerminan masyarakat yang belum siap menerima kemajuan yang ada. Kita tahu bahwa masyarakat Indonesia merupakan masyarakat gotong-royong, penuh keakraban dan sangat kekeluargaan. Mungkin tidak pernah terlintas dipikiran kita bahwa jejaring sosial menciptakan sebuah komunikasi yang tidak efektif. Memang jejaring sosial mendekatkan kita dengan yang jauh, tetapi menjauhkan kita dari yang dekat, sehingga dapat menciptakan hubungan yang tidak harmonis.

Kita semua tentunya tidak mengharapkan hal tersebut terjadi. Perlu adanya sikap bijak menghadapi kemajuan yang terus berkembang. Marilah bersama-sama menggunakan jejaring sosial sesuai dengan kebutuhan masing-masing sehingga tidak melenyapkan jati diri bangsa. Alangkah mirisnya jika budaya heterogen penuh kekeluargaan masyarakat Indonesia digantikan dengan budaya barat yang sangat homogen.

readmore »»  
[ Read More.. ]

Friday, March 2, 2012

Berbagi itu Indah





“Semakin banyak kita memberi maka akan semakin banyak kita mengeluarkan”


Walaupun hanya sekedar lelucon, namun tanpa disadari masih banyak dari kita yang terus membiarkan ungkapan tersebut terus tumbuh dan berakar dihati. Dilihat dari kaca mata ekonomi tentu itu sangat benar, tetapi dari sudut pandang agama dengan memberi maka kelak kita akan memperoleh balasan atas apa yang telah kita keluarkan, pastinya harus dilakukan dengan ikhlas karena ikhlas adalah ruh dari amalan yang dilakukan.

Sebagai mahluk sosial, kita tidak luput dari peran orang lain dikehidupan kita. Orang kaya bisa dikatakan kaya ketika ada orang miskin, orang tinggi bisa dianggap tinggi ketika ia berada diantara orang lain yang pendek, seorang pemimpin bisa disebut pemimpin ketika ada orang lain yang dipimpinnya, begitu juga dengan orang pintar akan diakui kepintarannya atas kemampuan lebih yang Allah anugerahkan atas yang lainnya. Lantas kelebihan yang telah Allah berikan itu jangan sampai membuat manusia menjadi seorang yang arogan karena semua itu hanya sekedar titipan.

Berbagi itu indah. Ya... berbagi itu sesuatu yang mulia, pepatah lama yang mungkin tidak asing lagi ditelinga kita “tangan diatas lebih baik daipada tangan dibawah”. Namun pada kenyataannya tidak mudah untuk dilakukan walau itu sangat mudah untuk diucapkan.

Kembali ke lelucon awal tadi, ungkapan diatas tentunya tidak berlaku untuk ilmu, berbagi ilmu lebih tepatnya. Karena semakin banyak kita membagikan ilmu yang kita miliki, maka kita akan semakin mengerti dan menguasai ilmu itu sendiri. Sebenarnya apa sih peran ilmu dalam kehidupan manusia?
Tidak banyak yang bisa dilakukan tanpa ilmu, ilmulah yang membuat manusia itu hidup, berbuat, berkembang dan tumbuh lebih maju. Ilmu menjadikan hidup ini lebih mudah. Sebagai contoh: dulu orang harus membutuhkan waktu yang cukup lama untuk dapat mengirimkan sebuah surat kepada keluarga atau kerabat yang berada diluar pulau, sekarang hanya butuh waktu yang sangat singkat untuk bisa memberikan sebuah kabar atau berita, bahkan dapat berbicara langsung dalam waktu yang bersamaan. Kemajuan ilmu yang menciptakan telepon/handphone memotong banyak waktu, ruang dan waktu bukan lagi menjadi masalah.

Kampus adalah salah satu tempat formal menuntut ilmu, masalah pelajaran adalah masalah tersendiri yang timbul dari kita dan mereka yang sedang menyelesaikan program pendidikan. Namun kampus bukanlah satu-satunya wadah menuntut ilmu, organisasi; forum/perkumpulan dan lingkungan sekitar juga dapat memberikan banyak pelajaran yang dapat kita jadikan bekal untuk menjalani kehidupan hari esok yang lebih baik.

Beraneka ragam jenis mahasiswa terdapat di kampus, ini mahasiswa atau suaka marga satwa hehehe..
Kita terlahir di dunia dari keluarga yang berbeda dan pastinya dibekali kemampuan yang berbeda-beda pula. Masalah kemampuan biasanya menjadi problem mahasiswa di kampus. Tidak sedikit yang mengeluh dan tidak bersyukur atas apa yang telah Allah berikan kepada dirinya. Sebagian dari kita bukan tidak mungkin bisa seperti yang lainnya, hanya sifat malas yang kadang membelenggu manusia sehingga kesulitan dalam belajar. Walau pada kenyataannya ada minoritas yang memang mempunyai kemampuan yang tidak seperti kebanyakan orang, namun itu bukanlah alasan untuk tidak bisa menjadi seperti yang lainnya.

Berbicara tentang teman-teman yang memiliki kesulitan dalam menyerap apa yang diberikan dosen dikelas, sebagai makhluk yang dibekali hati tentu kita akan peka terhadap hal tersebut, namun dari kita  masih banyak yang tetap diam begitu saja dan terus pura-pura tidak tahu atas problem teman kita walau pada hakikatnya kita menyadarinya.

Tidak salah bahwa sebagian dari kita menganggap kuliah sebagai ajang kompetisi untuk menjadi lulusan terbaik ketika wisuda, namun tidak benar kalau harus bersikap acuh tak acuh bahkan saling sikut dan saling menjatuhkan demi sesuatu yang hanya sebatas kepuasan bathin semata. Ketika kita dengan mudah menyelesaikan program pendidikan dibangku kuliah sedangkan teman-teman yang lain masih saja disibukkan dengan kuliah mereka, hanya kita dan orang tua yang berada di auditorium yang dilengkapi dengan presidium wisuda dan beberapa dosen yang hadir, apakah kita pantas disebut lulusan terbaik?

Sebagai penutup saya akan membagikan apa yang pernah disampaikan oleh Imam Al-Ghazali, beliau mengatakan “Manusia pada dasarnya mati, kecuali orang yang berilmu. Orang yang berilmu walaupun dia hidup itu tidur, kecuali yang mengamalkan ilmunya. Dan orang yang mengamalkan ilmunya banyak yang tertipu, kecuali yang ikhlas didalam mengamalkannya”.

Apakah sekarang kita masih punya alasan untuk tidak belajar dan berbagi dengan ihklas??

readmore »»  
[ Read More.. ]