Monday, March 19, 2012

Kita dan Jejaring Sosial



Perkembangan teknologi cyber tidak bisa di hindarkan. Perkembangan teknologi ibarat sebilah pisau yang memiliki dua sisi, tentu menghadirkan dampak positif dan dampak negatif. Kehadiran internet memberikan solusi tehadap kebutuhan masyarakat modern.

Seiring berjalannya perkembangan tersebut, lahirnya jejaring sosial yang menawarkan trend/gaya hidup baru. Lahirnya jejaring sosial memberikan banyak manfaat bagi penggunanya. Namun pada kenyataannya, tidak sedikit sisi kriminalitas yang mengintai dibalik itu semua, seperti penipuan, penjajakan seks, atau mungkin modus kejahatan lain. Targetnya tak lain para pengusaha dan anak-anak usia remaja seperti pelajar, mahasiswa, dan bahkan penerima beasiswa.

Jejaring sosial merupakan permainan baru yang lahir terus berkembang.  Perlunya kesiapan sebelum terjun dan larut kedalamnya. Sifat kehati-hatian juga diperlukan saat menggunakan agar tidak terjebak dengan kejahatan terselubung yang ada didalamnya.

Seiring berjalannya waktu, jejaring sosial yang bukan hanya dipandang sebagai trend saja, bahkan banyak yang menganggapnya sebagai suatu kebutuhan terutama remaja dan tak lepas juga mahasiswa, sehingga menyebabkan ketergantungan para penggunanya. Memang bukan tidak benar, usia tersebut merupakan masa-masa pencarian jati diri, ajang mengekspresikan diri, dan tidak sedikit juga yang melakukan hal-hal gila demi sebuah eksistensi.

Dalam menggunakan jejaring sosial, tentu adanya rambu-rambu yang mesti diperhatikan agar aman dan nyaman dalam menggunakannya tanpa harus mengancam privacy,  kita harus bijak dengan apa yang akan kita bagikan kepada teman-teman di jejaring sosial. Contohnya tidak membagikan perasaan hari ini, lokasi sekarang atau hal-hal lain yang sifatnya personal.

Masyarakat Indonesia merupakan salah satu cerminan masyarakat yang belum siap menerima kemajuan yang ada. Kita tahu bahwa masyarakat Indonesia merupakan masyarakat gotong-royong, penuh keakraban dan sangat kekeluargaan. Mungkin tidak pernah terlintas dipikiran kita bahwa jejaring sosial menciptakan sebuah komunikasi yang tidak efektif. Memang jejaring sosial mendekatkan kita dengan yang jauh, tetapi menjauhkan kita dari yang dekat, sehingga dapat menciptakan hubungan yang tidak harmonis.

Kita semua tentunya tidak mengharapkan hal tersebut terjadi. Perlu adanya sikap bijak menghadapi kemajuan yang terus berkembang. Marilah bersama-sama menggunakan jejaring sosial sesuai dengan kebutuhan masing-masing sehingga tidak melenyapkan jati diri bangsa. Alangkah mirisnya jika budaya heterogen penuh kekeluargaan masyarakat Indonesia digantikan dengan budaya barat yang sangat homogen.

readmore »»  
[ Read More.. ]

Friday, March 2, 2012

Berbagi itu Indah





“Semakin banyak kita memberi maka akan semakin banyak kita mengeluarkan”


Walaupun hanya sekedar lelucon, namun tanpa disadari masih banyak dari kita yang terus membiarkan ungkapan tersebut terus tumbuh dan berakar dihati. Dilihat dari kaca mata ekonomi tentu itu sangat benar, tetapi dari sudut pandang agama dengan memberi maka kelak kita akan memperoleh balasan atas apa yang telah kita keluarkan, pastinya harus dilakukan dengan ikhlas karena ikhlas adalah ruh dari amalan yang dilakukan.

Sebagai mahluk sosial, kita tidak luput dari peran orang lain dikehidupan kita. Orang kaya bisa dikatakan kaya ketika ada orang miskin, orang tinggi bisa dianggap tinggi ketika ia berada diantara orang lain yang pendek, seorang pemimpin bisa disebut pemimpin ketika ada orang lain yang dipimpinnya, begitu juga dengan orang pintar akan diakui kepintarannya atas kemampuan lebih yang Allah anugerahkan atas yang lainnya. Lantas kelebihan yang telah Allah berikan itu jangan sampai membuat manusia menjadi seorang yang arogan karena semua itu hanya sekedar titipan.

Berbagi itu indah. Ya... berbagi itu sesuatu yang mulia, pepatah lama yang mungkin tidak asing lagi ditelinga kita “tangan diatas lebih baik daipada tangan dibawah”. Namun pada kenyataannya tidak mudah untuk dilakukan walau itu sangat mudah untuk diucapkan.

Kembali ke lelucon awal tadi, ungkapan diatas tentunya tidak berlaku untuk ilmu, berbagi ilmu lebih tepatnya. Karena semakin banyak kita membagikan ilmu yang kita miliki, maka kita akan semakin mengerti dan menguasai ilmu itu sendiri. Sebenarnya apa sih peran ilmu dalam kehidupan manusia?
Tidak banyak yang bisa dilakukan tanpa ilmu, ilmulah yang membuat manusia itu hidup, berbuat, berkembang dan tumbuh lebih maju. Ilmu menjadikan hidup ini lebih mudah. Sebagai contoh: dulu orang harus membutuhkan waktu yang cukup lama untuk dapat mengirimkan sebuah surat kepada keluarga atau kerabat yang berada diluar pulau, sekarang hanya butuh waktu yang sangat singkat untuk bisa memberikan sebuah kabar atau berita, bahkan dapat berbicara langsung dalam waktu yang bersamaan. Kemajuan ilmu yang menciptakan telepon/handphone memotong banyak waktu, ruang dan waktu bukan lagi menjadi masalah.

Kampus adalah salah satu tempat formal menuntut ilmu, masalah pelajaran adalah masalah tersendiri yang timbul dari kita dan mereka yang sedang menyelesaikan program pendidikan. Namun kampus bukanlah satu-satunya wadah menuntut ilmu, organisasi; forum/perkumpulan dan lingkungan sekitar juga dapat memberikan banyak pelajaran yang dapat kita jadikan bekal untuk menjalani kehidupan hari esok yang lebih baik.

Beraneka ragam jenis mahasiswa terdapat di kampus, ini mahasiswa atau suaka marga satwa hehehe..
Kita terlahir di dunia dari keluarga yang berbeda dan pastinya dibekali kemampuan yang berbeda-beda pula. Masalah kemampuan biasanya menjadi problem mahasiswa di kampus. Tidak sedikit yang mengeluh dan tidak bersyukur atas apa yang telah Allah berikan kepada dirinya. Sebagian dari kita bukan tidak mungkin bisa seperti yang lainnya, hanya sifat malas yang kadang membelenggu manusia sehingga kesulitan dalam belajar. Walau pada kenyataannya ada minoritas yang memang mempunyai kemampuan yang tidak seperti kebanyakan orang, namun itu bukanlah alasan untuk tidak bisa menjadi seperti yang lainnya.

Berbicara tentang teman-teman yang memiliki kesulitan dalam menyerap apa yang diberikan dosen dikelas, sebagai makhluk yang dibekali hati tentu kita akan peka terhadap hal tersebut, namun dari kita  masih banyak yang tetap diam begitu saja dan terus pura-pura tidak tahu atas problem teman kita walau pada hakikatnya kita menyadarinya.

Tidak salah bahwa sebagian dari kita menganggap kuliah sebagai ajang kompetisi untuk menjadi lulusan terbaik ketika wisuda, namun tidak benar kalau harus bersikap acuh tak acuh bahkan saling sikut dan saling menjatuhkan demi sesuatu yang hanya sebatas kepuasan bathin semata. Ketika kita dengan mudah menyelesaikan program pendidikan dibangku kuliah sedangkan teman-teman yang lain masih saja disibukkan dengan kuliah mereka, hanya kita dan orang tua yang berada di auditorium yang dilengkapi dengan presidium wisuda dan beberapa dosen yang hadir, apakah kita pantas disebut lulusan terbaik?

Sebagai penutup saya akan membagikan apa yang pernah disampaikan oleh Imam Al-Ghazali, beliau mengatakan “Manusia pada dasarnya mati, kecuali orang yang berilmu. Orang yang berilmu walaupun dia hidup itu tidur, kecuali yang mengamalkan ilmunya. Dan orang yang mengamalkan ilmunya banyak yang tertipu, kecuali yang ikhlas didalam mengamalkannya”.

Apakah sekarang kita masih punya alasan untuk tidak belajar dan berbagi dengan ihklas??

readmore »»  
[ Read More.. ]