Ketika raga mulai tumbuh dewasa,
Ketika amal kebaikan mulai dihisab,
Ketika rasa mulai tumbuh dihati,
Ketika asa dihantui rasa patah hati,
Membuat manusia lupa akan kebahagiaan yang hakiki.
Semua orang pasti mengalami,
Membuat manusia lupa akan kebahagiaan yang hakiki.
Semua orang pasti mengalami,
Tak pandang usia apalagi harta,
Rasa ini tumbuh dan bersemi dihati,
Akan berdosa dikala belum waktunya,
Akan bahagia jika telah sampai masanya.
Ya Allah yang membolak-balikkan hati kami..
Apakah ini fitrah atau sekedar nafsu duniawi?
Ya Allah yang membolak-balikkan hati kami..
Apakah ini fitrah atau sekedar nafsu duniawi?
Ketika masih usia kanak-kanak, kebahagian terbesar adalah ketika mempuyai
boneka yang banyak atau koleksi mainan dari tokoh super hero yang sangat lengkap.
Kebahagiaan tersebut tentu bertahan tidak lama, seragam putih-merah mulai
membuat itu semua lenyap, tokoh super hero yang selama ini dibangga-banggakan
atau boneka cantik hadiah ulang tahun dari Ibu dibuat tidak berdaya ketika
harus dimasukkan kedalam lemari kaca.
Masa kanak-kanak mengingatkan kita akan kasih sayang kedua orang tua
ketika kita masih kecil dahulu. Rasa manja terkadang membuat mereka tersiksa,
menuruti semua kehendak kita. Stop..!! Ini membuat saya merindukan mereka di rumah
(maklum anak kost, jauh dari orang tua).
Setelah tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang semakin dewasa, akan
ada satu rasa yang merupakan fitrah yang dititipkan Allah kepada manusia. Semua
dari kita pasti akan sepakat dan memiliki jawaban yang sama.
Cintut atau versi
alaynya Lop3, LuV, LuPh, dan
sebagainya (saya tidak tahu banyak), bukanlah perkara yang tabu lagi
dikehidupan remaja, mungkin semua sudah pernah mengalaminya bahkan sudah
berkali-kali.
Kata cintut tentu tidak luput
dari kata bahagia dan patah hati. Dikalangan remaja, ini menjadi bahasan utama
ketika lagi bersama. Ya... Ada istilah kasmaran, PDKT, jadian, putus dan bla
bla bla.
Masa remaja sebenarnya bukanlah masa-masa yang semestinya harus kita
habiskan untuk hal-hal seperti tersebut. Lagu musisi 90-an “Kisah Kasih di
Sekolah” dan pengaruh budaya barat membuat banyak remaja zaman sekarang
sepertinya berlomba-lomba untuk untuk memperoleh kebahagiaan yang kadang hanya
1 bulan, 6 bulan, 3 tahun atau bahkan ada yang berakhir pelaminan. Namun apakah
itu bisa dianggap sebagai sebuah kebahagiaan?
Perkembangan zaman dan pengaruh budaya barat menyebabkan pergeseran nilai-nilai,
sesuatu yang nyata-nyata halal disamar-samarkan dan dibuat menjadi haram,
begitu juga yang haram sekarang sudah dipandang sebagai sesuatu yang halal. Judi
sekarang dianggap sebagai hiburan, membuka aurat menjadi trend berpakaian, pacaran
menjadi ajang perkenalan.
Kehidupan remaja mungkin tak luput dari satu kata yang banyak membius dan
menjerumuskan banyak generasi muda saat ini, tepat sekali “pacaran”. Bukan
hanya remaja, anak bau kencur pun sekarang sudah banyak terjangkit penyakit
ini.
Sebagai seorang remaja tentu akan timbul pilihan di hati kita, mengikuti
trend yang sedang marak atau tetap menjaga dan menunggu tiba masanya kelak. Ungkapan
“hari gini ngga punya pacar, kasian banget sih elo” sering sekali mungkin kita
dengar, bercanda dengan pesan terselubung mencela. Lantas jangan sampai
ungkapan tersebut membuat hati kita goyah. Ketika mereka berkata seperti itu,
maka berdo’alah dalam hati “Ya Allah.. Jagalah hati ini sampai tiba waktunya”.
Nafsu membuat manusia berbelok ke jalan kesesatan. Bukan hanya remaja,
orang tua pun terkadang juga tak luput, bahkan aktivis dakwah sekalipun.
Pengetahuan dan pemahaman agama tidak menjamin akan lepas dari hal ini. Agama
sering digunakan sebagai alat untuk
membenarkan penyelewengannya. Mereka tahu bahwa pacaran itu haram, tapi
mereka berusaha menyamarkan dan menyebutnya dengan “pacaran islami”. Adakah
istilah tersebut dalam Islam?
Banyak dari kita pernah terjerumus di masa lalu dan mungkin sampai
sekarang masih banyak juga yang terus mempertahankannya. Ingatlah.. Jalan masih
panjang, masa lajang jangan membuat kita tergiur dengan kesesatan yang
ditawarkan, nafsu duniawi yang akan menghancurkan masa depan. Pernikahan adalah
solusi yang tepat, bukan pacaran. Memang pernikahan merupakan perkara yang
sangat mudah untuk dilaksanakan, namun hari-hari yang akan dilalui setelah itu
tentu memerlukan persiapan yang sangat matang.
Kita sudah melewati hari-hari yang penuh hura-hura, banyak kesempatan
belajar telah kita lewatkan begitu saja, sampai pada saatnya kelak tidak ada
sedikitpun persiapan untuk menjalani bahtera rumah tangga. Jangan pernah menganggap
pernikahan sebagai sesuatu yang tabu, karena tentu semua dari kita akan
menjalankannya, terutama laki-laki yang akan menjadi imam bagi keluarganya
kelak. Kepala keluarga layaknya nahkoda dalam sebuah kapal, ia menjadi pemimpin
dan penuntun bagi keluarganya untuk dapat mencapai sebuah tujuan, terjangan ombak
atau halangan badai merupakan rintangan
yang harus di sikapi dengan bijak dan di hadapi bersama, bukan hanya duniawi
tetapi tujuan hidup yang hakiki yaitu akhirat. Pengatahuan dan pemahaman agama
tentu sangat diperlukan untuk dapat menggapai cita-cita keluarga yang sakinah,
mawaddah wa rohmah.
Ya Allah yang membolak-balikkan hati kami..
Jangan Engkau jadikan rasa ini membuat kami jauh
dari-Mu,
Mengurangi rasa cinta kepada-Mu.
Berikanlah kelak pasangan dengan ketulusan hati,
Selalu menemani dan menuntun untuk lebih dekat
kepada-Mu.
Ya Allah..
Jagalah hati ini sampai tiba masanya..
No comments:
Post a Comment