Sunday, November 4, 2012

Inikah Fitrah atau Sekedar Nafsu Duniawi


Ketika raga mulai tumbuh dewasa,
Ketika amal kebaikan mulai dihisab,
Ketika rasa mulai tumbuh dihati,
Ketika asa dihantui rasa patah hati,
Membuat manusia lupa akan kebahagiaan yang hakiki.

Semua orang pasti mengalami,
Tak pandang usia apalagi harta,
Rasa ini tumbuh dan bersemi dihati,
Akan berdosa dikala belum waktunya,
Akan bahagia jika telah sampai masanya.

Ya Allah yang membolak-balikkan hati kami..
Apakah ini fitrah atau sekedar nafsu duniawi?


Ketika masih usia kanak-kanak, kebahagian terbesar adalah ketika mempuyai boneka yang banyak atau koleksi mainan dari tokoh super hero yang sangat lengkap. Kebahagiaan tersebut tentu bertahan tidak lama, seragam putih-merah mulai membuat itu semua lenyap, tokoh super hero yang selama ini dibangga-banggakan atau boneka cantik hadiah ulang tahun dari Ibu dibuat tidak berdaya ketika harus dimasukkan kedalam lemari kaca.

Masa kanak-kanak mengingatkan kita akan kasih sayang kedua orang tua ketika kita masih kecil dahulu. Rasa manja terkadang membuat mereka tersiksa, menuruti semua kehendak kita. Stop..!! Ini membuat saya merindukan mereka di rumah (maklum anak kost, jauh dari orang tua).

Setelah tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang semakin dewasa, akan ada satu rasa yang merupakan fitrah yang dititipkan Allah kepada manusia. Semua dari kita pasti akan sepakat dan memiliki jawaban yang sama.

Cintut atau versi alaynya Lop3, LuV, LuPh, dan sebagainya (saya tidak tahu banyak), bukanlah perkara yang tabu lagi dikehidupan remaja, mungkin semua sudah pernah mengalaminya bahkan sudah berkali-kali.

Kata cintut tentu tidak luput dari kata bahagia dan patah hati. Dikalangan remaja, ini menjadi bahasan utama ketika lagi bersama. Ya... Ada istilah kasmaran, PDKT, jadian, putus dan bla bla bla.

Masa remaja sebenarnya bukanlah masa-masa yang semestinya harus kita habiskan untuk hal-hal seperti tersebut. Lagu musisi 90-an “Kisah Kasih di Sekolah” dan pengaruh budaya barat membuat banyak remaja zaman sekarang sepertinya berlomba-lomba untuk untuk memperoleh kebahagiaan yang kadang hanya 1 bulan, 6 bulan, 3 tahun atau bahkan ada yang berakhir pelaminan. Namun apakah itu bisa dianggap sebagai sebuah kebahagiaan?

Perkembangan zaman dan pengaruh budaya barat menyebabkan pergeseran nilai-nilai, sesuatu yang nyata-nyata halal disamar-samarkan dan dibuat menjadi haram, begitu juga yang haram sekarang sudah dipandang sebagai sesuatu yang halal. Judi sekarang dianggap sebagai hiburan, membuka aurat menjadi trend berpakaian, pacaran menjadi ajang perkenalan.

Kehidupan remaja mungkin tak luput dari satu kata yang banyak membius dan menjerumuskan banyak generasi muda saat ini, tepat sekali “pacaran”. Bukan hanya remaja, anak bau kencur pun sekarang sudah banyak terjangkit penyakit ini.

Sebagai seorang remaja tentu akan timbul pilihan di hati kita, mengikuti trend yang sedang marak atau tetap menjaga dan menunggu tiba masanya kelak. Ungkapan “hari gini ngga punya pacar, kasian banget sih elo” sering sekali mungkin kita dengar, bercanda dengan pesan terselubung mencela. Lantas jangan sampai ungkapan tersebut membuat hati kita goyah. Ketika mereka berkata seperti itu, maka berdo’alah dalam hati “Ya Allah.. Jagalah hati ini sampai tiba waktunya”.

Nafsu membuat manusia berbelok ke jalan kesesatan. Bukan hanya remaja, orang tua pun terkadang juga tak luput, bahkan aktivis dakwah sekalipun. Pengetahuan dan pemahaman agama tidak menjamin akan lepas dari hal ini. Agama sering digunakan sebagai alat untuk  membenarkan penyelewengannya. Mereka tahu bahwa pacaran itu haram, tapi mereka berusaha menyamarkan dan menyebutnya dengan “pacaran islami”. Adakah istilah tersebut dalam Islam?

Banyak dari kita pernah terjerumus di masa lalu dan mungkin sampai sekarang masih banyak juga yang terus mempertahankannya. Ingatlah.. Jalan masih panjang, masa lajang jangan membuat kita tergiur dengan kesesatan yang ditawarkan, nafsu duniawi yang akan menghancurkan masa depan. Pernikahan adalah solusi yang tepat, bukan pacaran. Memang pernikahan merupakan perkara yang sangat mudah untuk dilaksanakan, namun hari-hari yang akan dilalui setelah itu tentu memerlukan persiapan yang sangat matang.

Kita sudah melewati hari-hari yang penuh hura-hura, banyak kesempatan belajar telah kita lewatkan begitu saja, sampai pada saatnya kelak tidak ada sedikitpun persiapan untuk menjalani bahtera rumah tangga. Jangan pernah menganggap pernikahan sebagai sesuatu yang tabu, karena tentu semua dari kita akan menjalankannya, terutama laki-laki yang akan menjadi imam bagi keluarganya kelak. Kepala keluarga layaknya nahkoda dalam sebuah kapal, ia menjadi pemimpin dan penuntun bagi keluarganya untuk dapat mencapai sebuah tujuan, terjangan ombak atau  halangan badai merupakan rintangan yang harus di sikapi dengan bijak dan di hadapi bersama, bukan hanya duniawi tetapi tujuan hidup yang hakiki yaitu akhirat. Pengatahuan dan pemahaman agama tentu sangat diperlukan untuk dapat menggapai cita-cita keluarga yang sakinah, mawaddah wa rohmah.

Ya Allah yang membolak-balikkan hati kami..
Jangan Engkau jadikan rasa ini membuat kami jauh dari-Mu,
Mengurangi rasa cinta kepada-Mu.
Berikanlah kelak pasangan dengan ketulusan hati,
Selalu menemani dan menuntun untuk lebih dekat kepada-Mu.

Ya Allah..
Jagalah hati ini sampai tiba masanya..


No comments:

Post a Comment