Jeda waktu antar semester bagi mahasiswa kurang tepat jika disebut
dengan liburan, walaupun hari-hari yang kita jalani tanpa tugas, pekerjaan
rumah yang banyak, presentasi, laporan atau persiapan quis, membuat kita tidak
sepenuhnya dapat menikmatinya untuk menenangkan hati dan pikiran. Arti liburan
bagi seorang mahasiswa tidak adil saja jika disamakan dengan mereka yang masih
duduk dibangku sekolah. Ngomong-ngomong tentang bangku sekolah, pasti secara
spontanitas yang terlintas dipikiran kita semua adalah masa-masa indah ketika
masih berseragam putih abu-abu. Hmm.. pada masa itu hampir semua dari kita
sedang dilanda kelabilan atau biasa yang dikenal dengan ababil, yaitu abg labil
atau sebagian orang lagi mengartikannya alay labil hehehe...
Walau kita sedang tidak dibayangi oleh permasalahan-permasalahan
kuliah tersebut, namun ada beberapa permasalahan lain yang mengganggu masa-masa
jeda antar semester kita. Iya pasti dari kita sepakat menjawab penyusunan
rencana study untuk semester berikutnya, that's right...
Masalah baru dimulai, setelah galau dan gundah menyelimuti dari kita
tentang mata kuliah apa saja yang baik untuk kita ambil disemester depan, lalu
akan timbul lagi satu masalah yaitu dosen yang pantas untuk masing-masing mata
kuliah yang akan kita ambil. Sampai disini apakah masalah sudah selesai? Tentu
akan banyak keragaman jawaban dari kita. Sebenarnya masalah belum selesai
begitu saja, lalu apa yang masih harus dibahas??
Setiap manusia dibekali kemampuan & watak yang berbeda-beda
sehingga saat penyusunan rencana study, dosen menjadi trending topik dikalangan
mahasiwa. Hampir karakter setiap dosen dibahas, mulai dari paras & penampilan;
sifat, sikap & pembawaan ketika didalam & diluar kelas; cara
penyampaian materi kuliah; PR, tugas, quis, soal ujian yang diberikan &
sistem penilaian; yang tidak habis pikir sampai semua aibnya juga dikorek
sampai akarnya (Na’udzubillah). Namun
ada satu point penting yang biasanya menjadi alasan utama mahasiswa dalam
memilih dosen, yaitu sistem penilaian. Dosen yang murah hati dalam memberikan
nilai akan laris manis, nilai bagus tentunya.
Oleh karena itu muncul satu pertanyaan yang pantas untuk masalah
tersebut:
“Sebenarnya kita kuliah itu untuk belajar & menuntut ilmu atau
sekedar untuk mendapat nilai bagus?”
Sebelum pembahasan terlalu jauh, ada baiknya kita melihat sisi baik
dan buruk tentang kuliah yang sungguh-sungguh menutut ilmu dengan kuliah yang
hanya berburu nilai. Tentu akan timbul pro dan kontra terhadap kedua pernyataan
tersebut.
Jika tujuan duduk dibangku kuliah hanya untuk mendapatkan nilai bagus
saja, saran saya ubahlah kebiasan buruk itu sekarang kawan sebelum penyesalan akan
datang dihari kemudian karena itu akan sangat merugikan. Bukan berarti kita
kuliah tidak mengharapkan nilai bagus, namun jangan jadikan berburu nilai
sebagai tujuan utama kita dari kuliah. Oke saya setuju bahwa tahap pertama
dalam seleksi penerimaan karyawan suatu persahaan adalah nilai, walau tahap
seleksi selanjutnya masalah keberuntungan saja hehehe
![]() |
| Nilai tanpa ilmu akan menjerumus- kan seseorang di dunia kerja |
Sebaliknya dengan kuliah yang sungguh-sungguh menuntut ilmu, bukan
berarti orang-orang yang menganut faham ini tidak memilah-milih dosen saat
penyusunan rencana study. Lalu apa dong bedanya sama mereka yang hanya berburu
nilai bagus? Bagi mereka dosen adalah guru yang akan memberikan semua ilmu,
pengetahuan dan pengalamannya untuk bekal ketika mahasiswanya sudah terjun ke
dunia kerja. Tipe dosen seperti ini lebih dikenal killer dan angker dikalangan
mahasiswa, namun banyak dari kita kurang mengetahui bahwa mereka dosen yang
dianggap killer dan angker itu sendiri memiliki sugudang ilmu yang siap mereka
bagikan kepada mahasiswanya.
![]() |
| Nilai akan mengikuti seiring usaha dan do'a |
Mari kembali kita renungi lagi bersama semester demi semester yang
telah kita lalui..
Sudah sempurnakah belajar kita beberapa semester yang lalu untuk bekal
kerja kita nanti? Sampai kapan kita harus menyia-nyiakan amanah belajar orang
tua kita hanya untuk berburu nilai dan waktu study saja? Apakah dengan cara itu
akan memenuhi cita-cita dan tujuan dari orang tua menyekolahkan anaknya sampai
bangku kuliah? Sebagian dari kita akan melihat lagi kebelakang, mengintrospeksi
diri dan merencanakan sesuatu yang akan dirinya lakukan dimasa mendatang.
Sebagian lagi mungkin akan menutup mata & telinga, sifat acuh tak acuh karena
mereka tahu akan diwarisi kekayaan yang banyak yang semuanya akan didapat setelah
orang tuanya wafat nanti. Tapi alangkah sempurnanya jika semua fasilitas yang
orang tua berikan sekarang kita jadikan media untuk meraih kesuksesan itu
sendiri.
Pada hakikatnya keseksesan adalah milik kita dan ia akan lahir & tumbuh dari dalam diri kita sendiri.





