Sunday, June 10, 2012

Bukan Salah Kita


Semua orang terlahir di dunia sama, terlahir dari rahim sang Ibu, bersih dari noda serta suci dari dosa. Kedua orang tuanyalah yang membuat si buah hati tersebut menjadi berbeda. Ketika si buah hati terlahir dari keluarga Muslim, maka orang tuanya akan mengajarkan sesuatu yang diajarkan oleh agama mereka yaitu Islam, begitu juga dengan mereka yang Nasrani, Yahudi dan Majusi.

Terlahir di dunia sebagai manusia bukanlah pilihan, jika sebelumnya kita bisa memilih, pasti kita akan memilih terlahir dari keluarga yang sholeh & sholehah, kaya raya, terhormat dan pasti akan meminta paras yang rupawan serta perawakan seperti ratu atau pangeran.

Mungkin disekitar kita banyak orang yang selalu mengeluh dengan keadaannya, menyesali kehidupan yang dijalani, orang tuanya, bahkan ada yang menyalahi Tuhan, Na’udzubillah. Biasanya mereka yang berpikir salah biasa menyebutnya nasib, “Emang udah nasib gue hidup susah” tapi mereka tidak ada usaha untuk berubah, selalu menyalahkan takdir.

Berbicara tentang takdir, takdir itu ada 2 yaitu takdir mubram dan takdir ghair mubram atau takdir mu’alaq. Apa itu takdir mubram? Dan apa pula takdir mu’alaq?

Takdir mubram merupakan ketetapan yang tidak bisa diubah, semua telah tercatat di Lauhul Hahfudz, contohnya ajal. Ketika seseorang dihadapkan pada sakaratul maut, tidak ada lagi sesuatu yang bisa dilakukan, kita hanya akan menerima ketepatan. Tanpa kita sadari, jauh sebelum kita terlahir di dunia, kita telah menyetujui bahwa kita nanti akan menjalani hidup di dunia dengan waktu yang semua mahluk tidak mengetahuinya, hanya Dia-lah yang punya pengetahuan tentang itu, jadi jangan pernah percaya ramalan ya.

Sedangkan takdir mu’alaq ialah ketetapan yang dapat berubah dan diubah sesuai dengan usaha yang dilakukan, contohnya rejeki. Mungkin tidak jarang kita melihat orang yang hidup bergelimang harta, jika kita berpikir dan bukan hanya melihat, sebenarnya semua kemewahan itu bukan cuma karena takdir mereka terlahir dari keluarga kaya, itu merupakan hasil kerja keras dan jerih payah. Tanpa kerja keras, mustahil semua itu bisa bertahan lama. Sebaliknya jika melihat mereka yang tinggal di kolong jembatan, emperan toko atau dan hidup di jalanan, itu bukanlah mutlak takdir mereka. Mereka mungkin bernasib kurang baik, terlahir dari keluarga yang tidak seberuntung yang lain, tapi bukan berarti mereka harus selamanya hidup dalam keadaan yang memilukan sampai harus mewarisi kepada keturunannya.

Ada sebuah ungkapan yang sangat menarik berkaitan dengan hal ini, mungkin bisa menjadi bahan renungan kita bersama, tapi saya lupa sumbernya hehehe...

“Bukan salah kita jika terlahir dalam keadaan miskin, tapi salah besar jika nanti kita mati dalam keadaan miskin”

Jadi kita jangan pernah mengeluh dan menyalahkan takdir, coba lihat kebawah, masih banyak orang-orang yang yang tidak seberuntung kita, hidup dalam kelaparan, tanpa kasih sayang dan jauh dari pendidikan. Bersyukurlah dengan apa yang kita miliki sekarang, walau hanya sementara saja. Berusahalah (ikhtiar) karena nasib hanya kita yang bisa merubahnya serta harus disertai dengan tawakal, karena hidup merupakan perjuangan, bukan menunggu giliran.

readmore »»  
[ Read More.. ]