Semua orang terlahir di dunia sama,
terlahir dari rahim sang Ibu, bersih dari noda serta suci dari dosa. Kedua
orang tuanyalah yang membuat si buah hati tersebut menjadi berbeda. Ketika si
buah hati terlahir dari keluarga Muslim, maka orang tuanya akan mengajarkan
sesuatu yang diajarkan oleh agama mereka yaitu Islam, begitu juga dengan mereka
yang Nasrani, Yahudi dan Majusi.
Terlahir di dunia sebagai manusia
bukanlah pilihan, jika sebelumnya kita bisa memilih, pasti kita akan memilih
terlahir dari keluarga yang sholeh & sholehah, kaya raya, terhormat dan
pasti akan meminta paras yang rupawan serta perawakan seperti ratu atau pangeran.
Mungkin disekitar kita banyak orang
yang selalu mengeluh dengan keadaannya, menyesali kehidupan yang dijalani,
orang tuanya, bahkan ada yang menyalahi Tuhan, Na’udzubillah. Biasanya mereka yang berpikir
salah biasa menyebutnya nasib, “Emang udah nasib gue hidup susah” tapi mereka
tidak ada usaha untuk berubah, selalu menyalahkan takdir.
Berbicara tentang takdir, takdir itu
ada 2 yaitu takdir mubram dan takdir ghair mubram atau takdir mu’alaq. Apa itu
takdir mubram? Dan apa pula takdir mu’alaq?
Takdir mubram merupakan ketetapan
yang tidak bisa diubah, semua telah tercatat di Lauhul Hahfudz, contohnya ajal.
Ketika seseorang dihadapkan pada sakaratul maut, tidak ada lagi sesuatu yang
bisa dilakukan, kita hanya akan menerima ketepatan. Tanpa kita sadari, jauh
sebelum kita terlahir di dunia, kita telah menyetujui bahwa kita nanti akan
menjalani hidup di dunia dengan waktu yang semua mahluk tidak mengetahuinya,
hanya Dia-lah yang punya pengetahuan tentang itu, jadi jangan pernah percaya
ramalan ya.
Sedangkan takdir mu’alaq ialah
ketetapan yang dapat berubah dan diubah sesuai dengan usaha yang dilakukan,
contohnya rejeki. Mungkin tidak jarang kita melihat orang yang hidup
bergelimang harta, jika kita berpikir dan bukan hanya melihat, sebenarnya semua
kemewahan itu bukan cuma karena takdir mereka terlahir dari keluarga kaya, itu
merupakan hasil kerja keras dan jerih payah. Tanpa kerja keras, mustahil semua
itu bisa bertahan lama. Sebaliknya jika melihat mereka yang tinggal di kolong
jembatan, emperan toko atau dan hidup di jalanan, itu bukanlah mutlak takdir
mereka. Mereka mungkin bernasib kurang baik, terlahir dari keluarga yang tidak
seberuntung yang lain, tapi bukan berarti mereka harus selamanya hidup dalam
keadaan yang memilukan sampai harus mewarisi kepada keturunannya.
Ada sebuah ungkapan yang sangat
menarik berkaitan dengan hal ini, mungkin bisa menjadi bahan renungan kita
bersama, tapi saya lupa sumbernya hehehe...
“Bukan salah kita jika terlahir dalam
keadaan miskin, tapi salah besar jika nanti kita mati dalam keadaan miskin”
Jadi
kita jangan pernah mengeluh dan menyalahkan takdir, coba lihat kebawah, masih
banyak orang-orang yang yang tidak seberuntung kita, hidup dalam kelaparan,
tanpa kasih sayang dan jauh dari pendidikan. Bersyukurlah dengan apa yang kita
miliki sekarang, walau hanya sementara saja. Berusahalah (ikhtiar) karena nasib
hanya kita yang bisa merubahnya serta harus disertai dengan tawakal, karena
hidup merupakan perjuangan, bukan menunggu giliran.

No comments:
Post a Comment